Dua hari yang lalu, tepatnya hari Senin pagi, saya berhasil mengumpulkan tekad untuk membeli jagung pakan ayam di pasar besar kota. Stok jagung yang ada di rumah sudah habis, dan ayam-ayam terlanjur memilih jagung sebagai makanan favoritnya.
Sebenarnya rencana untuk ke pasar besar sudah ada dari beberapa minggu yang lalu. Namun karena adanya covid19, rumah adalah tempat ternyaman. Setelah saya mengetahui sendiri ternyata ayam-ayam sangat menyukai jagung, saya putuskan untuk segera membeli ke pasar besar.
Betapa terkejutnya saya ketika saya menuju ke pasar besar. Sepanjang perjalanan, terlihat bank-bank yang penuh dengan pengunjung. Terlihat juga antrian di beberapa kantor pos. Jalan menuju ke pasar besar pun padat. Kemacetan sempat terjadi. Sempat terbersit di benak saya untuk putar balik saja, dan membatalkan niat ke pasar.
Namun, karena putar balik pun juga susah gara-gara terlalu padatnya lalu lintas, saya sabarkan diri untuk melanjutkan perjalanan ke pasar.
Setelah sampai di area parkir motor yang sudah penuh sesak dengan banyak motor, saya langsung menuju kios penjual jagung yang tidak terlalu jauh dari tempat parkir. Saya sempat terpana dengan banyaknya orang di pasar. Di luar dugaan, pasar tersebut ternyata sangat ramai walaupun covid19 melanda.
Saya urungkan niat untuk membeli benda-benda selain jagung. Setelah jagung sudah saya dapatkan, saya mengambil motor dengan diiringi tatapan penuh heran dari tukang parkir. Dia pasti takjub melihat barang belanjaan saya yang cuma jagung. Dia sepertinya tidak memahami perasaan saya yang putus asa melihat keramaian pasar.
Madiun benar-benar bangkit. Bangkit menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bangkit menyemarakkan perekonomian. Bangkit meramaikan kota yang seharusnya sepi agar covid19 tidak semakin merajalela. Kebangkitan tersebut entah membuat mereka lengah sehingga terpapar covid19, ataukah membuat covid19 jengah menyaksikan ulah manusia itu. Entahlah.
No comments:
Post a Comment