Labels

15/08/2026

Andai Saja

Andai saja saat itu aku lebih sigap, mungkin nyawa suamiku bisa terselamatkan.

Andai saja saat itu aku tidak anggap muntahnya suamiku adalah akibat naiknya asam lambung, mungkin dia masih hidup sekarang.

Andai saja malam itu aku tidak ketiduran saat nonton TV bersama suamiku, mungkin aku jadi lebih waspada akan perubahan roman muka suamiku yang sedang menahan sakit.

Andai saja aku tidak pernah ketiduran di depan TV setiap malam dan selalu menemani suamiku begadang, mungkin saja saat ini suamiku sedang bersamaku dan hidup.

Andai saja saat itu aku tidak membuatkan kopi untuk suamiku, mungkin saja malam itu dia tidak terkena serangan stroke, dan saat ini dia mungkin masih baik-baik saja.

Andai saja kucegah suamiku dari merokok terus menerus malam itu, mungkin saja dia masih ada saat ini.

Andai saja kupaksa suamiku agar segera tidur malam itu dan tidak usah pedulikan data kerjaan, mungkin saja dia masih bisa bercengkerama bersamaku saat ini.

Andai saja malam itu ada stok obat darah tinggi, mungkin saja nyawa suamiku masih bisa diselamatkan.

Namun apalah daya, aku harus terima suratan takdir.

Senin Wage malam, 6 Juli 2026, saat itulah aku menjadi istri yang hancur. Istri yang tidak bisa sigap menyelamatkan suami dari serangan stroke.

Andai saja dia kuantar ke IGD lebih awal, semua ini tidak akan terjadi.

Namun apalah daya, aku bodoh soal tanda-tanda serangan darah tinggi.

Andai saja malam itu aku langsung bawa suamiku ke IGD segera setelah dia muntah-muntah, mungkin aku tidak perlu menangis sejak 6 Juli malam hari sampai kini.

Dan kini, hari ini 36 hari meninggalnya suamiku, aku cuma bisa menangis kehilangan dia dan mendoakan dia.

14/08/2026

Tiga Kematian Sekaligus

Berat sekali rasanya hidup ini setelah meninggalnya suami saya. Rasa bersalah terus menghantui, padahal kami berdua sedang tidak mengalami konflik. Semuanya baik-baik saja. Malahan kami sudah berencana untuk menikmati perjalanan bis antar kota. Hanya untuk berkunjung sejenak ke Surabaya tanpa tujuan berarti, kemudian balik lagi ke Madiun. Kami memang menunggu momen bulan Juli setelah minggu ketiga karena suami memperkirakan saat itu beban kerja sudah tidak terlalu berat. 

Namun itu hanya tinggal rencana. Tanggal 11 Juli 2026, setelah maghrib, suami saya dinyatakan meninggal oleh dokter di ICU. Walaupun berbagai doa sudah saya ucapkan di dekat telinga suami saya saat tim perawat berusaha menyelamatkan nyawa suami saya, Tuhan berkehendak lain. Ternyata memang itulah saatnya suami saya harus berpulang. Saat itu pula, saya merasa kosong.

Sosok yang selalu membuat saya antusias menyambut hari sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sosok yang saya doakan agar selamat ketika berangkat kerja tiap paginya, ternyata sudah tidak ada lagi. Sosok yang selalu saya sambut dengan lega setiap pulang kerja, ternyata sudah kembali ke Sang Pencipta.

Kematian suami saya ternyata membuat separuh saya pun mati. Separuh saya yang hanya suami saya yang tahu; orang lain tidak tahu. Separuh saya itu, sisi mentah saya itu, langsung terkubur saat suami saya dimakamkan. Tidak akan pernah ada lagi separuh saya itu.

Ada lagi yang lain yang ikut terkubur. Rencana kami berdua. Semua punah. Rencana bersenang-senang berdua, rencana membesarkan usaha, rencana menua bersama, rencana suami saya yang ingin fokus menjalankan usaha saja tanpa perlu lagi menjadi budak korporat. Betapa bahagianya saya ketika saya tahu bahwa suami saya punya keinginan untuk mengakhiri bekerja pada akhir tahun ini. Pasti akan banyak waktu buat kami berdua selalu bersama. Saya pun tidak harus waswas setiap kali dia berangkat kerja karena resiko berkendara di jalan sangat besar.

Dan ternyata, saya kini tidak perlu lagi waswas akan keselamatan suami saya saat berkendara untuk bekerja karena dia sudah tidak lagi bekerja. Dia sudah tidak perlu berangkat kerja lagi. Dia sudah dikubur, bersama separuh saya dan rencana-rencana kami berdua.

23/07/2026

Questioning Death

It has always been in my mind since I was a child to think about the end of death. Until now, it always makes me dizzy. It is unthinkable what the end of death is. The end of life is so crystal clear: death.

Based on the teaching of my religion, the concept of death is clear. Correct me if I am wrong, what I understand is that every spirit is waiting for the final day. They are waiting somewhere at a very broad magical land. They are waiting for the doomsday when we, the living, are eradicated from the earth, ready or not.

Nothing is eternal. Yes, that is true. But it means that nothingness is an eternity. In other words, the end of eternity is nothing. Everything in the universe comes from nothing. So, what controls the nothingness and the creation of everything? Not one genius can think about it, unless they are equipped with a holy knowledge. And what I always believe that God creates everything. God makes everything become nothing. God makes nothing become everything.

And God reminds me of coming back to Him when death comes to someone I love. The death of my husband prepares me for my death to come. Since the day my husband passed away, everyday has always been griefs and prayers. There is always some hope that my late husband knows that I always miss him.