Labels

01/02/2026

Mental Lelah: Pertanda Anda Benar-benar Hidup

Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah saat ini Anda sedang baik-baik saja secara mental ataukah sedang terpuruk-puruknya kesehatan mental Anda. Saya bisa menuliskan pernyataan tersebut bukan berarti bahwa saya adalah seorang psikolog ataupun ahli jiwa. Saya hanyalah orang biasa yang sedang melalui lika-liku hidup dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, saya bisa tahu ciri-ciri lelah mental.

Salah satu tandanya adalah sakit yang lama sembuhnya. Ini bukan tentang penyakit kronis; hanya penyakit yang ringan-ringan, seperti pilek, batuk, dan jenis alergi seperti ruam kulit dan gatal-gatal. Ini bisa terjadi pada orang yang imunitasnya tinggi dan dia sudah terbukti lama tidak menderita sakit. Suatu saat ketika dia menghadapi masalah yang kalut yang menguras mentalnya, penyakit itu bisa mendadak datang saat dia sedang menyelesaikan masalahnya. Atau bisa jadi penyakit itu datang setelah dia membereskan masalahnya.

Nah, ketika dia menderita sakit itu, dia pasti butuh waktu lumayan lama untuk menuju sembuh. Saya pikir itu adalah mekanisme tubuh untuk melakukan detoksifikasi akibat berkecamuknya pikiran saat masalah sedang melanda hidupnya. Dan menurut keyakinan saya pula, dia akan merasakan ringan tubuh dan pikiran setelah sembuh dari sakitnya.

Cara lain adalah dengan melihat rutinitas dia. Biar agak nyaman dibaca, saya ubah sudut pandangnya karena perubahan rutinitas yang kita lihat pada orang lain bisa disebabkan bukan hanya dari lelah mental. Banyak faktor lain yang membuatnya jadi berubah. Dengan menggunakan sudut pandang saya, saya akan jabarkan saat saya mengamati rutinitas saya sendiri. 

Selama lebih dari 20 tahun saya bekerja, sudah berulang kali saya ingat waktu saya akan berangkat kerja sambil menghela nafas panjang. Itu adalah momen mental saya sedang terpuruk, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, alias saya harus tetap berangkat kerja. Memang saya akui bahwa selama waktu bekerja saya, deskripsi pekerjaan yang saya lakoni tidak pernah melelahkan mental saya. Saya bahkan berusaha upgrade diri agar saya bertambah mahir. 

Akan tetapi, bekerja selama itu pasti akan berbenturan dengan lingkungan dan polah rekan kerja yang menjemukan. Mestinya, hampir di semua lingkungan kerja akan ada yang namanya figur yang berusaha menonjol dengan cara merendahkan figur yang lain. Bisa dibayangkan betapa lelah mental saya saat menghadapi situasi itu. Kelicikan berkedok keramahan adalah trik yang dilakukan agar bisa menonjol dengan pesat. Membayangkan saja kok perut saya jadi mual.

Setelah bertahun-tahun melewati itu semua dan sukses jarang sakit selama bekerja, saya lanjutkan hidup saya dengan rutinitas baru di rumah. Tiap pagi saya membuka kios dan melayani pembeli jika ada yang datang. Rutinitas baru itu bisa saya lakoni hingga sekarang, yaitu selama sekitar 16 bulan setelah lembaga tempat kerja saya tidak beroperasi. Dan biar hidup saya jadi semakin teratur, saya juga sempatkan olahraga jalan pagi sebelum buka kios. 

Bulan pertama sampai dengan bulan ke-11 saya lakoni rutinitas saya dengan lancar. Namun saat bulan ke-12 (Oktober 2025) tubuh saya langsung bereaksi. Flu yang berkepanjangan, dilanjutkan dengan penyakit gatal di area leher (yang ternyata akibat dari alergi terhadap makanan) menyerang tubuh saya. Saat itu saya hanya berprasangka pada cuaca. Hawa dari hujan yang lembab dan panaslah yang membuat saya mudah gatal-gatal dan terserang flu. 

Flu dan gatal saya sempat sembuh sebentar, tapi kemudian tiba-tiba kambuh lagi. Obat dari dokter hanya bisa mengkamuflase penyembuhan. Dan akhirnya, baru pada akhir November 2025, saya pulih seperti sedia kala. Sampai sekarang, saya bsrsyukur karena penyakit saya tidak kambuh lagi.

Entah mengapa, lubuk hati saya mengatakan bahwa sakit itu dikarenakan terlalu lamanya saya menahan diri di lingkungan kerja saya dulu. Ditambah lagi dengan kalutnya pikiran saya bahwa di umur saya ini, mencari kerja adalah hal yang konyol sementara ada usaha kecil yang sudah dirintis suami yang bisa saya lakoni.

Pikiran saya kalut, tapi saya tidak menyadari itu. Memang ternyata istilah "toxic positivity" nyata adanya. Berusaha berpikiran dan bersikap positif bisa menjadi bumerang. Jika memang perasaan tidak bisa mengingkari, tidak ada salahnya untuk menerima sejenak. Tidak perlu berpura-pura kuat jika menangis bisa membuat lega.

Satu lagi cara jitu untuk mendeteksi kelelahan mental saya yaitu dengan memahami level energi saya. Di umur saya yang tidak lagi muda, saya pasti mawas diri dengan tenaga saya sendiri. Saya pasti tahu kapan harus lanjut, kapan harus berhenti sejenak, ataupun kapan harus berhenti lama. Aktivitas jalan pagi yang saya lakukan adalah tolok ukur saya. Di kondisi fisik yang prima, berjalan riang tanpa henti selama kurang lebih 45 menit bisa saya lakukan.

Namun, di hari lain dengan kondisi fisik yang juga baik-baik saja, berjalan 15 menit saja rasanya sudah capek luar biasa. Itu terjadi karena pikiran saya sedang berkecamuk. Ternyata meskipun tidak sedang sakit, energi saya cepat menurun gara-gara meresahkan sesuatu. 

Nasehat yang bisa saya terapkan untuk diri sendiri adalah berdamai dengan keadaan. Terimalah kenyataan bahwa emosi sedang bergolak ketika mendapatkan kekecewaan. Jangan mengingkari kondisi itu dengan berpura-pura baik-baik saja dan tidak kecewa. Atau lebih baik lagi yaitu menjaga jarak dari sumber kekecewaan itu. Itu juga berlaku untuk kesedihan. Lebih mudah untuk menangis daripada berpura-pura kuat, yang pada akibatnya akan menjadikan saya sebagai sosok yang nir empati.

Tulisan ini sebenarnya saya maksudkan untuk tayang kemarin malam. Namun karena ketiduran itu adalah sebuah nikmat, menunda adalah hal yang manusiawi. Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini. Apakah hasil akhirnya adalah pemahaman pembaca ataukah kebingungan memahami, ya memang itulah benak manusia. Sering susah dipahami. Yang penting, mental pembaca akan selalu di jalur yang baik-baik saja.

18/04/2025

How to Practice Gratitude

Practicing gratitude is easier said than done if we are not used to doing it. Yes, it is a habit. Doing a habit is easy because it is autopilot. And because practicing gratitude is a good habit, it is even much more difficult to start. 

Let me make this a bit clearer. When we are starting to do something hard as a routine, like waking up early, doing the housework, or workout, it certainly feels heavy. On the second day, we really want to quit. However, when we are usually coming to work on time for example, and then one day we suddenly come late, we have an urge to come late again just to try. And I assure you it feels good because there is a feeling of freedom; free from a routine, free from obeying the rule. Then if we make it as a habit, we don't need a longer time to create it as a habit.

Don't you think it is weird when it feels hard to create a good habit while it feels so easy to make a bad habit? Though calling it as good or bad needs different points of view, we can still agree that gratitude is something good. And, yes, it is rather hard to practice it every day. That is because human minds are full of big, busy thoughts. Then, of course, because gratitude is something small, it is unthinkable to practice.

So, how should we practice gratitude until it becomes our habit? Should we follow some random motivators telling us some steps to practice gratitude? Yes, perhaps we can. However, we fail to proceed just because we suddenly know that those motivators are not as great as we think. We get disappointed knowing that our role models (a.k.a. those motivators) are just a normal human being. They don't do what they say. So we stop practicing.

Or should we force ourselves to make schedules to practice? For instance, we say energetically: "Thank God I'm still alive!" every time we wake up in the morning. That is a good idea to do. It can energize us to do our activities for the whole day. We undoubtedly hope that we wake up fresh every morning. And saying that utterance is easy when we wake up fresh. It will be totally different if we have so many problematic thoughts the night before. Can we wake up fresh the next morning? I don't think so. And of course we have no time to think that we should say: "Thank God I'm still alive!"

Anyway, at least we are aware that we are still alive. That is a good start to practice our gratitude. In any circumstances, good or bad, happy or sad, we can still express our gratitude for life to still be alive.


Umur bukan hanya Angka

46 memang angka biasa buat orang-orang yang tidak menganggap angka 4 dan 6 spesial. Tapi kalau mereka adalah penggemar Motogp, pastilah 46 adalah angka keramat. Mereka yang selalu menikmati suguhan Motogp selama kurang lebih 20 tahun pasti tahu Valentino Rossi dan angka itu.

Saat ini, angka 46 juga spesial buat saya karena hari ini saya genap berusia sejumlah angka itu. Ucapan selamat ulang tahun yang pagi tadi saya dapatkan adalah dari Unit Donor Darah PMI Madiun karena memang data saya tersimpan di sistem itu sebagai pendonor😁. Mungkin nanti ada lagi ucapan selamat dari beberapa aplikasi belanja online😂. Saya maklumi kalau saya tidak mendapatkan ucapan selamat dari suami saya karena hari lahir hanyalah hari biasa bagi kami berdua.

Dan walaupun saat ini ungkapan isi pikiran saya sedang saya tuangkan di blog ini, bukan berarti bahwa saya menganggap bahwa tanggal hari ini adalah tanggal spesial. Kemampuan menulis saya sedang saya ragukan saat ini. Hampir selama 7 bulan, otak saya penuh dengan berbagai ide tulisan, tetapi tidak pernah sekalipun bisa terkonsep di blog ini. Kelihatannya otak saya ini sedang menikmati istirahat semenjak saya tidak menjadi orang yang punya jam kantor 08:00 - 16:00, alias dirumahkan.

Ya. Dirumahkan. Atau istilah kerennya adalah pensiun dini. Atau mengundurkan diri dari bekerja. Mungkin ada juga yang beranggapan bahwa saya sudah tidak bekerja lagi karena perusahaannya bangkrut. Yang jelas, pada usia 46 tahun ini, saya yakin bukan saya penyebab tutupnya lembaga tempat saya mengajar itu. Dan itu salah satu pencapaian saya di usia 46 ini: tidak menjadi penyebab tutupnya lembaga tempat saya bekerja.

Angka 46 saat ini bukan hanya angka bagi saya; tapi juga berarti umur yang telah saya capai di saat saya memperoleh pencapaian-pencapaian lain. Pada umur ini, saya sudah berani membuat keputusan untuk tidak lagi terikat dengan rutinitas wanita pekerja. Tidak lagi harus berdandan rapi jali, berpakaian resmi, berangkat pagi dan pulang sore hari hanya demi tiap bulan mendapat gaji. Tapi pastinya juga diridhoi oleh suami ketika saya bilang ke dia bahwa saya tidak akan mencari-cari lowongan pekerjaan mengajar lagi.

Selain itu, pencapaian saya yang lain adalah "keterpaksaan" saya untuk mempelajari hal baru, yaitu tentang pestisida dan pupuk. Ya karena saya menjalani peran istri yang tidak bekerja kantoran, alias di rumah saja, saya sigap saja menjalankan usaha kecil berupa kios pertanian milik suami saya di depan rumah. Jadi, biar saya tidak terlihat dungu saat ditanya calon pembeli, mau tidak mau saya banyak membaca info tentang pestisida dan pupuk.

Sebenarnya masih ada beberapa pencapaian lain yang sudah saya raih, namun saya pikir itu hanya pencapaian remeh. Ada satu pencapaian yang akan saya tulis di sini. Suami saya pun belum saya beritahu tentang pencapaian ini. Nanti mungkin saat dia membaca ini, baru dia akan tahu.

Pencapaian itu ada kaitannya dengan alasan mengapa saya mendadak rajin olahraga jalan pagi dan mengurangi makan. Saya memang tergolong ke dalam perempuan setengah baya yang berat badannya berlebih, dan kelihatannya akan susah menurunkan berat badan jika alasannya remeh. Contoh alasan remeh versi saya adalah ingin terlihat seksi, biar baju-baju yang masuk museum bisa muat lagi, ataupun biar sehat.

Saya punya alasan kuat mengapa saya harus rajin jalan pagi dan mengurangi makan. Alasan saya berkaitan dengan saat saya mati nanti. Saya tidak ingin menyusahkan orang-orang yang memandikan jenazah saya dan yang menggotong tubuh saya ke liang lahat nanti. Saya tidak mau tubuh saya berat, karena saya yakin dosa saya juga berat. Masak waktu saya mati saja masih harus menyusahkan orang lain karena berat tubuh saya.

Jadi, berapapun umur kita, pasti selalu ada pencapaian-pencapaian kecil yang sudah diraih.