Labels

24/08/2026

A Letter to My Late Husband

My dearest husband,

It's been 45 days I cannot touch you anymore. I can only come to your grave to touch the stone with your name written on it. When can I touch you again?

I really miss daily life with you. I'm longing for your voice asking me to make another cup of coffee for you. I miss gossiping about some random persons with you. I miss looking at you play with our cats. I'm longing for everything about you.

Don't you miss looking at my facial expression everytime you come home bringing some ice cream or fruit salad for both of us to enjoy together? Are you not longing for the sound of my laughter after you crack some jokes? Do you not miss my cooking of your favorite food? You always know that my 'sambal tempe' is yummy.

Anyway, how are you now up there? I hope you're always accompanied by many loving souls. You already meet you elder brother and your parents, right? I'm sure you have a good time up there.

And down here on earth, I'm still grieving. But I'm trying to survive my life here because I know that you want me to have a good life here on earth. I'm not lying when I say that I often feel I have no energy to get through the day. However, I can still survive.

Please don't mind if I still talk to you at home. I pretend that you are still here. I just assume that you can hear me talking about anything to you. Yesterday I even got angry at you because I couldn't find your left earbud. You must have dropped it somewhere before I brought you to the hospital that night.

I don't know when my time comes, but please promise me that you'll be waiting for me up there. Thoughts and prayers from me are always for you every day and night with the hope that we'll never lose connection. So when my time comes, you'll directly welcome me. Then we'll be together again. 

15/08/2026

Andai Saja

Andai saja saat itu aku lebih sigap, mungkin nyawa suamiku bisa terselamatkan.

Andai saja saat itu aku tidak anggap muntahnya suamiku adalah akibat naiknya asam lambung, mungkin dia masih hidup sekarang.

Andai saja malam itu aku tidak ketiduran saat nonton TV bersama suamiku, mungkin aku jadi lebih waspada akan perubahan roman muka suamiku yang sedang menahan sakit.

Andai saja aku tidak pernah ketiduran di depan TV setiap malam dan selalu menemani suamiku begadang, mungkin saja saat ini suamiku sedang bersamaku dan hidup.

Andai saja saat itu aku tidak membuatkan kopi untuk suamiku, mungkin saja malam itu dia tidak terkena serangan stroke, dan saat ini dia mungkin masih baik-baik saja.

Andai saja kucegah suamiku dari merokok terus menerus malam itu, mungkin saja dia masih ada saat ini.

Andai saja kupaksa suamiku agar segera tidur malam itu dan tidak usah pedulikan data kerjaan, mungkin saja dia masih bisa bercengkerama bersamaku saat ini.

Andai saja malam itu ada stok obat darah tinggi, mungkin saja nyawa suamiku masih bisa diselamatkan.

Namun apalah daya, aku harus terima suratan takdir.

Senin Wage malam, 6 Juli 2026, saat itulah aku menjadi istri yang hancur. Istri yang tidak bisa sigap menyelamatkan suami dari serangan stroke.

Andai saja dia kuantar ke IGD lebih awal, semua ini tidak akan terjadi.

Namun apalah daya, aku bodoh soal tanda-tanda serangan darah tinggi.

Andai saja malam itu aku langsung bawa suamiku ke IGD segera setelah dia muntah-muntah, mungkin aku tidak perlu menangis sejak 6 Juli malam hari sampai kini.

Dan kini, hari ini 36 hari meninggalnya suamiku, aku cuma bisa menangis kehilangan dia dan mendoakan dia.

14/08/2026

Tiga Kematian Sekaligus

Berat sekali rasanya hidup ini setelah meninggalnya suami saya. Rasa bersalah terus menghantui, padahal kami berdua sedang tidak mengalami konflik. Semuanya baik-baik saja. Malahan kami sudah berencana untuk menikmati perjalanan bis antar kota. Hanya untuk berkunjung sejenak ke Surabaya tanpa tujuan berarti, kemudian balik lagi ke Madiun. Kami memang menunggu momen bulan Juli setelah minggu ketiga karena suami memperkirakan saat itu beban kerja sudah tidak terlalu berat. 

Namun itu hanya tinggal rencana. Tanggal 11 Juli 2026, setelah maghrib, suami saya dinyatakan meninggal oleh dokter di ICU. Walaupun berbagai doa sudah saya ucapkan di dekat telinga suami saya saat tim perawat berusaha menyelamatkan nyawa suami saya, Tuhan berkehendak lain. Ternyata memang itulah saatnya suami saya harus berpulang. Saat itu pula, saya merasa kosong.

Sosok yang selalu membuat saya antusias menyambut hari sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sosok yang saya doakan agar selamat ketika berangkat kerja tiap paginya, ternyata sudah tidak ada lagi. Sosok yang selalu saya sambut dengan lega setiap pulang kerja, ternyata sudah kembali ke Sang Pencipta.

Kematian suami saya ternyata membuat separuh saya pun mati. Separuh saya yang hanya suami saya yang tahu; orang lain tidak tahu. Separuh saya itu, sisi mentah saya itu, langsung terkubur saat suami saya dimakamkan. Tidak akan pernah ada lagi separuh saya itu.

Ada lagi yang lain yang ikut terkubur. Rencana kami berdua. Semua punah. Rencana bersenang-senang berdua, rencana membesarkan usaha, rencana menua bersama, rencana suami saya yang ingin fokus menjalankan usaha saja tanpa perlu lagi menjadi budak korporat. Betapa bahagianya saya ketika saya tahu bahwa suami saya punya keinginan untuk mengakhiri bekerja pada akhir tahun ini. Pasti akan banyak waktu buat kami berdua selalu bersama. Saya pun tidak harus waswas setiap kali dia berangkat kerja karena resiko berkendara di jalan sangat besar.

Dan ternyata, saya kini tidak perlu lagi waswas akan keselamatan suami saya saat berkendara untuk bekerja karena dia sudah tidak lagi bekerja. Dia sudah tidak perlu berangkat kerja lagi. Dia sudah dikubur, bersama separuh saya dan rencana-rencana kami berdua.