Labels

24/08/2026

A Letter to My Late Husband

My dearest husband,

It's been 45 days I cannot touch you anymore. I can only come to your grave to touch the stone with your name written on it. When can I touch you again?

I really miss daily life with you. I'm longing for your voice asking me to make another cup of coffee for you. I miss gossiping about some random persons with you. I miss looking at you play with our cats. I'm longing for everything about you.

Don't you miss looking at my facial expression everytime you come home bringing some ice cream or fruit salad for both of us to enjoy together? Are you not longing for the sound of my laughter after you crack some jokes? Do you not miss my cooking of your favorite food? You always know that my 'sambal tempe' is yummy.

Anyway, how are you now up there? I hope you're always accompanied by many loving souls. You already meet you elder brother and your parents, right? I'm sure you have a good time up there.

And down here on earth, I'm still grieving. But I'm trying to survive my life here because I know that you want me to have a good life here on earth. I'm not lying when I say that I often feel I have no energy to get through the day. However, I can still survive.

Please don't mind if I still talk to you at home. I pretend that you are still here. I just assume that you can hear me talking about anything to you. Yesterday I even got angry at you because I couldn't find your left earbud. You must have dropped it somewhere before I brought you to the hospital that night.

I don't know when my time comes, but please promise me that you'll be waiting for me up there. Thoughts and prayers from me are always for you every day and night with the hope that we'll never lose connection. So when my time comes, you'll directly welcome me. Then we'll be together again. 

15/08/2026

Andai Saja

Andai saja saat itu aku lebih sigap, mungkin nyawa suamiku bisa terselamatkan.

Andai saja saat itu aku tidak anggap muntahnya suamiku adalah akibat naiknya asam lambung, mungkin dia masih hidup sekarang.

Andai saja malam itu aku tidak ketiduran saat nonton TV bersama suamiku, mungkin aku jadi lebih waspada akan perubahan roman muka suamiku yang sedang menahan sakit.

Andai saja aku tidak pernah ketiduran di depan TV setiap malam dan selalu menemani suamiku begadang, mungkin saja saat ini suamiku sedang bersamaku dan hidup.

Andai saja saat itu aku tidak membuatkan kopi untuk suamiku, mungkin saja malam itu dia tidak terkena serangan stroke, dan saat ini dia mungkin masih baik-baik saja.

Andai saja kucegah suamiku dari merokok terus menerus malam itu, mungkin saja dia masih ada saat ini.

Andai saja kupaksa suamiku agar segera tidur malam itu dan tidak usah pedulikan data kerjaan, mungkin saja dia masih bisa bercengkerama bersamaku saat ini.

Andai saja malam itu ada stok obat darah tinggi, mungkin saja nyawa suamiku masih bisa diselamatkan.

Namun apalah daya, aku harus terima suratan takdir.

Senin Wage malam, 6 Juli 2026, saat itulah aku menjadi istri yang hancur. Istri yang tidak bisa sigap menyelamatkan suami dari serangan stroke.

Andai saja dia kuantar ke IGD lebih awal, semua ini tidak akan terjadi.

Namun apalah daya, aku bodoh soal tanda-tanda serangan darah tinggi.

Andai saja malam itu aku langsung bawa suamiku ke IGD segera setelah dia muntah-muntah, mungkin aku tidak perlu menangis sejak 6 Juli malam hari sampai kini.

Dan kini, hari ini 36 hari meninggalnya suamiku, aku cuma bisa menangis kehilangan dia dan mendoakan dia.

14/08/2026

Tiga Kematian Sekaligus

Berat sekali rasanya hidup ini setelah meninggalnya suami saya. Rasa bersalah terus menghantui, padahal kami berdua sedang tidak mengalami konflik. Semuanya baik-baik saja. Malahan kami sudah berencana untuk menikmati perjalanan bis antar kota. Hanya untuk berkunjung sejenak ke Surabaya tanpa tujuan berarti, kemudian balik lagi ke Madiun. Kami memang menunggu momen bulan Juli setelah minggu ketiga karena suami memperkirakan saat itu beban kerja sudah tidak terlalu berat. 

Namun itu hanya tinggal rencana. Tanggal 11 Juli 2026, setelah maghrib, suami saya dinyatakan meninggal oleh dokter di ICU. Walaupun berbagai doa sudah saya ucapkan di dekat telinga suami saya saat tim perawat berusaha menyelamatkan nyawa suami saya, Tuhan berkehendak lain. Ternyata memang itulah saatnya suami saya harus berpulang. Saat itu pula, saya merasa kosong.

Sosok yang selalu membuat saya antusias menyambut hari sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sosok yang saya doakan agar selamat ketika berangkat kerja tiap paginya, ternyata sudah tidak ada lagi. Sosok yang selalu saya sambut dengan lega setiap pulang kerja, ternyata sudah kembali ke Sang Pencipta.

Kematian suami saya ternyata membuat separuh saya pun mati. Separuh saya yang hanya suami saya yang tahu; orang lain tidak tahu. Separuh saya itu, sisi mentah saya itu, langsung terkubur saat suami saya dimakamkan. Tidak akan pernah ada lagi separuh saya itu.

Ada lagi yang lain yang ikut terkubur. Rencana kami berdua. Semua punah. Rencana bersenang-senang berdua, rencana membesarkan usaha, rencana menua bersama, rencana suami saya yang ingin fokus menjalankan usaha saja tanpa perlu lagi menjadi budak korporat. Betapa bahagianya saya ketika saya tahu bahwa suami saya punya keinginan untuk mengakhiri bekerja pada akhir tahun ini. Pasti akan banyak waktu buat kami berdua selalu bersama. Saya pun tidak harus waswas setiap kali dia berangkat kerja karena resiko berkendara di jalan sangat besar.

Dan ternyata, saya kini tidak perlu lagi waswas akan keselamatan suami saya saat berkendara untuk bekerja karena dia sudah tidak lagi bekerja. Dia sudah tidak perlu berangkat kerja lagi. Dia sudah dikubur, bersama separuh saya dan rencana-rencana kami berdua.

23/07/2026

Questioning Death

It has always been in my mind since I was a child to think about the end of death. Until now, it always makes me dizzy. It is unthinkable what the end of death is. The end of life is so crystal clear: death.

Based on the teaching of my religion, the concept of death is clear. Correct me if I am wrong, what I understand is that every spirit is waiting for the final day. They are waiting somewhere at a very broad magical land. They are waiting for the doomsday when we, the living, are eradicated from the earth, ready or not.

Nothing is eternal. Yes, that is true. But it means that nothingness is an eternity. In other words, the end of eternity is nothing. Everything in the universe comes from nothing. So, what controls the nothingness and the creation of everything? Not one genius can think about it, unless they are equipped with a holy knowledge. And what I always believe that God creates everything. God makes everything become nothing. God makes nothing become everything.

And God reminds me of coming back to Him when death comes to someone I love. The death of my husband prepares me for my death to come. Since the day my husband passed away, everyday has always been griefs and prayers. There is always some hope that my late husband knows that I always miss him. 

01/02/2026

Mental Lelah: Pertanda Anda Benar-benar Hidup

Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah saat ini Anda sedang baik-baik saja secara mental ataukah sedang terpuruk-puruknya kesehatan mental Anda. Saya bisa menuliskan pernyataan tersebut bukan berarti bahwa saya adalah seorang psikolog ataupun ahli jiwa. Saya hanyalah orang biasa yang sedang melalui lika-liku hidup dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, saya bisa tahu ciri-ciri lelah mental.

Salah satu tandanya adalah sakit yang lama sembuhnya. Ini bukan tentang penyakit kronis; hanya penyakit yang ringan-ringan, seperti pilek, batuk, dan jenis alergi seperti ruam kulit dan gatal-gatal. Ini bisa terjadi pada orang yang imunitasnya tinggi dan dia sudah terbukti lama tidak menderita sakit. Suatu saat ketika dia menghadapi masalah yang kalut yang menguras mentalnya, penyakit itu bisa mendadak datang saat dia sedang menyelesaikan masalahnya. Atau bisa jadi penyakit itu datang setelah dia membereskan masalahnya.

Nah, ketika dia menderita sakit itu, dia pasti butuh waktu lumayan lama untuk menuju sembuh. Saya pikir itu adalah mekanisme tubuh untuk melakukan detoksifikasi akibat berkecamuknya pikiran saat masalah sedang melanda hidupnya. Dan menurut keyakinan saya pula, dia akan merasakan ringan tubuh dan pikiran setelah sembuh dari sakitnya.

Cara lain adalah dengan melihat rutinitas dia. Biar agak nyaman dibaca, saya ubah sudut pandangnya karena perubahan rutinitas yang kita lihat pada orang lain bisa disebabkan bukan hanya dari lelah mental. Banyak faktor lain yang membuatnya jadi berubah. Dengan menggunakan sudut pandang saya, saya akan jabarkan saat saya mengamati rutinitas saya sendiri. 

Selama lebih dari 20 tahun saya bekerja, sudah berulang kali saya ingat waktu saya akan berangkat kerja sambil menghela nafas panjang. Itu adalah momen mental saya sedang terpuruk, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, alias saya harus tetap berangkat kerja. Memang saya akui bahwa selama waktu bekerja saya, deskripsi pekerjaan yang saya lakoni tidak pernah melelahkan mental saya. Saya bahkan berusaha upgrade diri agar saya bertambah mahir. 

Akan tetapi, bekerja selama itu pasti akan berbenturan dengan lingkungan dan polah rekan kerja yang menjemukan. Mestinya, hampir di semua lingkungan kerja akan ada yang namanya figur yang berusaha menonjol dengan cara merendahkan figur yang lain. Bisa dibayangkan betapa lelah mental saya saat menghadapi situasi itu. Kelicikan berkedok keramahan adalah trik yang dilakukan agar bisa menonjol dengan pesat. Membayangkan saja kok perut saya jadi mual.

Setelah bertahun-tahun melewati itu semua dan sukses jarang sakit selama bekerja, saya lanjutkan hidup saya dengan rutinitas baru di rumah. Tiap pagi saya membuka kios dan melayani pembeli jika ada yang datang. Rutinitas baru itu bisa saya lakoni hingga sekarang, yaitu selama sekitar 16 bulan setelah lembaga tempat kerja saya tidak beroperasi. Dan biar hidup saya jadi semakin teratur, saya juga sempatkan olahraga jalan pagi sebelum buka kios. 

Bulan pertama sampai dengan bulan ke-11 saya lakoni rutinitas saya dengan lancar. Namun saat bulan ke-12 (Oktober 2025) tubuh saya langsung bereaksi. Flu yang berkepanjangan, dilanjutkan dengan penyakit gatal di area leher (yang ternyata akibat dari alergi terhadap makanan) menyerang tubuh saya. Saat itu saya hanya berprasangka pada cuaca. Hawa dari hujan yang lembab dan panaslah yang membuat saya mudah gatal-gatal dan terserang flu. 

Flu dan gatal saya sempat sembuh sebentar, tapi kemudian tiba-tiba kambuh lagi. Obat dari dokter hanya bisa mengkamuflase penyembuhan. Dan akhirnya, baru pada akhir November 2025, saya pulih seperti sedia kala. Sampai sekarang, saya bsrsyukur karena penyakit saya tidak kambuh lagi.

Entah mengapa, lubuk hati saya mengatakan bahwa sakit itu dikarenakan terlalu lamanya saya menahan diri di lingkungan kerja saya dulu. Ditambah lagi dengan kalutnya pikiran saya bahwa di umur saya ini, mencari kerja adalah hal yang konyol sementara ada usaha kecil yang sudah dirintis suami yang bisa saya lakoni.

Pikiran saya kalut, tapi saya tidak menyadari itu. Memang ternyata istilah "toxic positivity" nyata adanya. Berusaha berpikiran dan bersikap positif bisa menjadi bumerang. Jika memang perasaan tidak bisa mengingkari, tidak ada salahnya untuk menerima sejenak. Tidak perlu berpura-pura kuat jika menangis bisa membuat lega.

Satu lagi cara jitu untuk mendeteksi kelelahan mental saya yaitu dengan memahami level energi saya. Di umur saya yang tidak lagi muda, saya pasti mawas diri dengan tenaga saya sendiri. Saya pasti tahu kapan harus lanjut, kapan harus berhenti sejenak, ataupun kapan harus berhenti lama. Aktivitas jalan pagi yang saya lakukan adalah tolok ukur saya. Di kondisi fisik yang prima, berjalan riang tanpa henti selama kurang lebih 45 menit bisa saya lakukan.

Namun, di hari lain dengan kondisi fisik yang juga baik-baik saja, berjalan 15 menit saja rasanya sudah capek luar biasa. Itu terjadi karena pikiran saya sedang berkecamuk. Ternyata meskipun tidak sedang sakit, energi saya cepat menurun gara-gara meresahkan sesuatu. 

Nasehat yang bisa saya terapkan untuk diri sendiri adalah berdamai dengan keadaan. Terimalah kenyataan bahwa emosi sedang bergolak ketika mendapatkan kekecewaan. Jangan mengingkari kondisi itu dengan berpura-pura baik-baik saja dan tidak kecewa. Atau lebih baik lagi yaitu menjaga jarak dari sumber kekecewaan itu. Itu juga berlaku untuk kesedihan. Lebih mudah untuk menangis daripada berpura-pura kuat, yang pada akibatnya akan menjadikan saya sebagai sosok yang nir empati.

Tulisan ini sebenarnya saya maksudkan untuk tayang kemarin malam. Namun karena ketiduran itu adalah sebuah nikmat, menunda adalah hal yang manusiawi. Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini. Apakah hasil akhirnya adalah pemahaman pembaca ataukah kebingungan memahami, ya memang itulah benak manusia. Sering susah dipahami. Yang penting, mental pembaca akan selalu di jalur yang baik-baik saja.

18/04/2025

How to Practice Gratitude

Practicing gratitude is easier said than done if we are not used to doing it. Yes, it is a habit. Doing a habit is easy because it is autopilot. And because practicing gratitude is a good habit, it is even much more difficult to start. 

Let me make this a bit clearer. When we are starting to do something hard as a routine, like waking up early, doing the housework, or workout, it certainly feels heavy. On the second day, we really want to quit. However, when we are usually coming to work on time for example, and then one day we suddenly come late, we have an urge to come late again just to try. And I assure you it feels good because there is a feeling of freedom; free from a routine, free from obeying the rule. Then if we make it as a habit, we don't need a longer time to create it as a habit.

Don't you think it is weird when it feels hard to create a good habit while it feels so easy to make a bad habit? Though calling it as good or bad needs different points of view, we can still agree that gratitude is something good. And, yes, it is rather hard to practice it every day. That is because human minds are full of big, busy thoughts. Then, of course, because gratitude is something small, it is unthinkable to practice.

So, how should we practice gratitude until it becomes our habit? Should we follow some random motivators telling us some steps to practice gratitude? Yes, perhaps we can. However, we fail to proceed just because we suddenly know that those motivators are not as great as we think. We get disappointed knowing that our role models (a.k.a. those motivators) are just a normal human being. They don't do what they say. So we stop practicing.

Or should we force ourselves to make schedules to practice? For instance, we say energetically: "Thank God I'm still alive!" every time we wake up in the morning. That is a good idea to do. It can energize us to do our activities for the whole day. We undoubtedly hope that we wake up fresh every morning. And saying that utterance is easy when we wake up fresh. It will be totally different if we have so many problematic thoughts the night before. Can we wake up fresh the next morning? I don't think so. And of course we have no time to think that we should say: "Thank God I'm still alive!"

Anyway, at least we are aware that we are still alive. That is a good start to practice our gratitude. In any circumstances, good or bad, happy or sad, we can still express our gratitude for life to still be alive.


Umur bukan hanya Angka

46 memang angka biasa buat orang-orang yang tidak menganggap angka 4 dan 6 spesial. Tapi kalau mereka adalah penggemar Motogp, pastilah 46 adalah angka keramat. Mereka yang selalu menikmati suguhan Motogp selama kurang lebih 20 tahun pasti tahu Valentino Rossi dan angka itu.

Saat ini, angka 46 juga spesial buat saya karena hari ini saya genap berusia sejumlah angka itu. Ucapan selamat ulang tahun yang pagi tadi saya dapatkan adalah dari Unit Donor Darah PMI Madiun karena memang data saya tersimpan di sistem itu sebagai pendonor😁. Mungkin nanti ada lagi ucapan selamat dari beberapa aplikasi belanja online😂. Saya maklumi kalau saya tidak mendapatkan ucapan selamat dari suami saya karena hari lahir hanyalah hari biasa bagi kami berdua.

Dan walaupun saat ini ungkapan isi pikiran saya sedang saya tuangkan di blog ini, bukan berarti bahwa saya menganggap bahwa tanggal hari ini adalah tanggal spesial. Kemampuan menulis saya sedang saya ragukan saat ini. Hampir selama 7 bulan, otak saya penuh dengan berbagai ide tulisan, tetapi tidak pernah sekalipun bisa terkonsep di blog ini. Kelihatannya otak saya ini sedang menikmati istirahat semenjak saya tidak menjadi orang yang punya jam kantor 08:00 - 16:00, alias dirumahkan.

Ya. Dirumahkan. Atau istilah kerennya adalah pensiun dini. Atau mengundurkan diri dari bekerja. Mungkin ada juga yang beranggapan bahwa saya sudah tidak bekerja lagi karena perusahaannya bangkrut. Yang jelas, pada usia 46 tahun ini, saya yakin bukan saya penyebab tutupnya lembaga tempat saya mengajar itu. Dan itu salah satu pencapaian saya di usia 46 ini: tidak menjadi penyebab tutupnya lembaga tempat saya bekerja.

Angka 46 saat ini bukan hanya angka bagi saya; tapi juga berarti umur yang telah saya capai di saat saya memperoleh pencapaian-pencapaian lain. Pada umur ini, saya sudah berani membuat keputusan untuk tidak lagi terikat dengan rutinitas wanita pekerja. Tidak lagi harus berdandan rapi jali, berpakaian resmi, berangkat pagi dan pulang sore hari hanya demi tiap bulan mendapat gaji. Tapi pastinya juga diridhoi oleh suami ketika saya bilang ke dia bahwa saya tidak akan mencari-cari lowongan pekerjaan mengajar lagi.

Selain itu, pencapaian saya yang lain adalah "keterpaksaan" saya untuk mempelajari hal baru, yaitu tentang pestisida dan pupuk. Ya karena saya menjalani peran istri yang tidak bekerja kantoran, alias di rumah saja, saya sigap saja menjalankan usaha kecil berupa kios pertanian milik suami saya di depan rumah. Jadi, biar saya tidak terlihat dungu saat ditanya calon pembeli, mau tidak mau saya banyak membaca info tentang pestisida dan pupuk.

Sebenarnya masih ada beberapa pencapaian lain yang sudah saya raih, namun saya pikir itu hanya pencapaian remeh. Ada satu pencapaian yang akan saya tulis di sini. Suami saya pun belum saya beritahu tentang pencapaian ini. Nanti mungkin saat dia membaca ini, baru dia akan tahu.

Pencapaian itu ada kaitannya dengan alasan mengapa saya mendadak rajin olahraga jalan pagi dan mengurangi makan. Saya memang tergolong ke dalam perempuan setengah baya yang berat badannya berlebih, dan kelihatannya akan susah menurunkan berat badan jika alasannya remeh. Contoh alasan remeh versi saya adalah ingin terlihat seksi, biar baju-baju yang masuk museum bisa muat lagi, ataupun biar sehat.

Saya punya alasan kuat mengapa saya harus rajin jalan pagi dan mengurangi makan. Alasan saya berkaitan dengan saat saya mati nanti. Saya tidak ingin menyusahkan orang-orang yang memandikan jenazah saya dan yang menggotong tubuh saya ke liang lahat nanti. Saya tidak mau tubuh saya berat, karena saya yakin dosa saya juga berat. Masak waktu saya mati saja masih harus menyusahkan orang lain karena berat tubuh saya.

Jadi, berapapun umur kita, pasti selalu ada pencapaian-pencapaian kecil yang sudah diraih.

11/09/2024

Menyimpulkan itu Bebas

Media sosial benar-benar bisa membuat pemirsa mendadak mahir membuat kesimpulan. Memang sudah menjadi hal yang lumrah jika kita menggunakan akun media sosial kita untuk berbagi suatu informasi, baik itu yang berkaitan dengan hal yang umum sampai dengan hal-hal yang berbau privasi. 

Pada kenyataannya, platform-platform yang tersedia buat kita untuk bermedsos ria mempunyai tujuannya masing-masing. Ada yang untuk terlihat profesional, terkesan mewah dan berkelas, terkesan pandai, terlihat berbakat di fotografi, dan sebagainya. Pastinya jika kita ingin terlihat wah di mata netizen, kita tentu mengunggah hal yang bisa mendongkrak derajat kita.

Sebagai salah satu pengguna setia WhatsApp, saya terpaksa memperlakukannya sebagai platform media sosial walaupun pada awalnya saya gunakan itu untuk pengganti SMS. Namun karena SMS sudah semakin ditinggalkan penggunanya, Whatsapp lah yang saya gunakan. Dan karena bermedsos itu membosankan buat saya pribadi, saya lebih memilih untuk tidak aktif mengintip status Whatsapp orang lain ataupun berbagi status.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi status saat saya sedang menonton acara talk-show yang diadakan oleh sebuah universitas di Madiun. Tidak ada terbesit keinginan untuk menggiring opini kepada mereka yang mengintip status Whatsapp saya bahwa saya penggemar pembicara di talk-show tersebut. Untuk diketahui saja, pembicaranya adalah Rocky Gerung, seorang sosok yang kontroversial di Indonesia. Nah, video yang saya bagikan di status Whatsapp saya adalah ketika dia masuk gedung dan disambut riuh dan semarak oleh sekitar 500 orang yang ada di gedung itu. Saya mau memberitahu orang-orang yang melihat status Whatsapp saya bahwa sosok yang dibenci oleh banyak orang di Indonesia itu ternyata kedatangannya disambut dengan tepuk tangan yang meriah oleh hadirin yang didominasi oleh mahasiswa dan pendidik.

Gara-gara status itu, ada teman saya yang mengira bahwa saya pindah tempat kerja karena dia mengenali gedung yang dipakai buat acara talk-show tersebut. Karena dia dan saya lumayan sering mengobrol di chat, dia langsung menanyakan kepada saya lewat chat untuk mengobati rasa penasarannya. Entah apa juga yang ada di pikiran orang-orang yang mengintip status saya dan mereka tidak menanyakannya ke saya. Pasti mereka membuat hipotesis-hipotesis liar yang berujung pada pembuatan kesimpulan tanpa dasar yang kuat😑. Tetapi itu bukan masalah karena orang bebas membuat kesimpulan-kesimpulan dari apa yang dia lihat.

Media sosial bisa mendorong orang untuk membuat kesimpulan-kesimpulan hanya berdasarkan pada satu atau dua data yang dilihat. Misalnya dari foto profil yang dipasang dan dari cerita yang dibagikan setiap harinya. Secara logika saja, kemungkinan besar terjadi kesalahan pembuatan kesimpulan dikarenakan adanya data yang terbatas. Jika ternyata kesimpulannya benar, bisa jadi sang pembuat kesimpulan mempunyai kemampuan sebagai ahli nujum😅.

Namun begitu, beruntunglah orang-orang yang hidup di jaman media sosial ini. Mereka terbantu perkembangan daya pikir cepatnya berkat suguhan-suguhan yang ada di media sosial. Mereka juga terbantu untuk mendapatkan informasi singkat dari video singkat yang setiap saat mereka nikmati dari layar ponsel mereka. Mereka pun mendadak bisa menjadi ahli skin care, ahli pertanian, ahli psikologi, bahkan ahli kejiwaan berkat kebiasaan mereka menonton video pendek dengan intensitas yang sangat tinggi.

Bagi siapapun yang sudah membaca tulisan saya ini, silakan bebas menyimpulkan tentang saya. 

18/03/2024

Quiet Quitting or Work-Life Balance?

The phrase "quiet quitting" really is ridiculous for me. I don't know who made that phrase famous, but I am sure that person who made it famous has some problem with work-life balance. And I'm sure that he works not for a manufacturing company as a machine operator or production staff. That person is, perhaps, dedicating himself for a job dealing with data, system, or customer. 

Because of the full dedication, there is a big possibility that his bosses prefer him to other staff. They really count on him because he is very capable of making things right for the company. Therefore, every time the company is in need for a quick fix, the boss will go straight to him as the savior. The boss doesn't give a damn if it's already his time to go home. Like some bosses say: Good careers are all about dedication and loyalty.

A wise decision when dealing with our job is just to do it based on the job description. That's enough. We don't need to show off our intelligence and effort if it is not our job description. It is not about avoiding work load; it is about maintaining our mental health while at work. 

By focusing on only doing our job at work, we can manage our own time at work. We don't force ourselves to work harder when we know it is the time to break for lunch and prayer. We also don't prolong our time to break and pray on purpose just because we want to relax longer while at work. And when it is the time to go home, we should go home soon because we have our personal life outside of work. If we intentionally go home later than the work time, we are considered bad at time management. Or maybe we are considered to not have a happy life outside of work😬

Who doesn't want to have a work-life balance? If we have a career, the work time is given to us to do and finish our job perfectly. If we have a business, we can regulate our own time to focus on doing our business. Outside of the work time or the business time, it is advisable that we enjoy our personal life or family life.

When dealing with career, we have the bosses and the supervisors who always control and manage us. As a worker and we are forced to work beyond our limit (they call it multitask), the management should give compensations in exchange for our time and energy. If the management doesn't give any compensations, there must be something wrong with the management system. However, if we say no to that multitasking assignment, we will be considered doing a quiet-quitting by the management team, while, in reality, we just want to have a good mental health while at work.

And, perhaps, something else worse might happen. After knowing that we work just to focus on our job description, the management team may think that we are quietly quitting. Then we will be put in a list that the management team will be quietly firing😆

Let us just hope that we are enjoying our career in a place where the management team are not quietly firing us just because we have a strong principle of work-life balance.

17/03/2024

Stop bilang: "Jangan menilai saya!"

Orang mempunyai kecenderungan untuk menilai apapun atau siapapun. Pasti ada sekelumit kesimpulan ataupun penilaian jika kita melihat kertas robek misalnya. 

"Duh sayang sekali kertasnya robek, gak bisa dipakai dong!" 
"Wah, lumayan ada kertas gak kepakai, bisa buat bakar sampah." 
"Kok kebangetan bener sih si empunya kertas? Gak bisa hati-hati gitu to? Masak bisa sampai robek gini?"
"Ah, itu bisa takbuang yang bagian robek. Takpotong aja. Biar kertasnya bisa dipakai buat nulis atau bikin coretan." 
"Wah, pola robekannya kok bisa gitu ya? Itu sengaja dirobek kayaknya." Dan kesimpulan-kesimpulan yang lain.

Atau misalnya saat melihat seorang anak kecil berpakaian bagus yang duduk sendirian dan terlihat santai.

"Anak itu keren! Pasti orang tuanya kaya."
"Kasihan sekali anak itu sendirian. Kok orang tuanya tega ya?"
"Pasti orang tuanya orang hebat. Anaknya bisa terlihat tenang walaupun sendirian."
"Wah masih kecil kok gayanya sudah terlihat sombong ya."
"Dia pasti anak warga sini. Makanya dia gak terlihat takut walaupun sendirian." Dan kesimpulan-kesimpulan yang lain.

Mungkin memang ada orang yang di benaknya tidak perlu ataupun tidak bisa membuat kesimpulan setelah melihat sesuatu ataupun seseorang. Namun itu ibarat satu dari seribu. Pada dasarnya, orang pasti menilai.

Jika ternyata ada ungkapan "don't judge a book from its cover", hal itu pasti bermula dari muaknya seseorang yang terlalu sering melihat orang-orang lain yang mengata-ngatai buku pengetahuan yang dia miliki. Bukunya sangat usang dan jelek sampulnya karena memang sering dibuka untuk dibaca. Saking jengkelnya, maka dia selalu bilang ke orang-orang yang melihat bukunya agar jangan menilai dari sampulnya. Tapi saya yakin, si pencetus ungkapan itu tetap mengakui bahwa orang tetap menghina buku itu karena sampulnya.

Buku saja dinilai sampulnya, apalagi orang. Ada orang sedang duduk berdiam diri. Pasti ada orang lain yang membuat penilaian tentang orang yang duduk bersendiri itu. Ada orang yang biasanya berpakaian warna-warna gelap. Suatu hari dia berpakaian warna pink atau kuning. Pasti ada orang lain yang menilai si orang yang berpakaian pink atau kuning itu. Ada orang yang lama tidak terlihat di media sosialnya. Tiba-tiba dia muncul dan mem-posting foto-foto tampan atau cantiknya, atau tiba-tiba dia menulis caption bernada curhatan, marah, sedih, ataupun filosofis. Orang lain pasti ada yang membuat penilaian tentang perubahan dia yang sangat drastis itu.

Oleh karena itu, jika ada selebgram, kreator digital, ataupun public figure bilang: "Tidak usahlah kalian menilai tentang saya!", maka mereka sedang lupa bahwa salah satu kebiasaan manusia yang lumrah adalah menilai orang lain.


15/03/2024

Nyata dan Maya

Judul tulisan kali ini terkesan agak aneh bahkan bagi saya sendiri. Ini mungkin dipengaruhi oleh lamanya saya tidak menulis di blog ini. Sudah hampir setahun saya tidak produktif di blog pribadi saya ini yang mengakibatkan saya kesulitan membuat judulnya 😅 Akan tetapi apa yang akan saya tuliskan di sini memang ada kaitannya dengan dunia nyata dan dunia maya.

Beberapa orang bilang bahwa kita harus terlihat ada di dunia maya. Selain kita adalah makhluk yang nyata dan kasat mata dan perlu menjalani hidup di dunia nyata, kita ternyata disarankan untuk hidup juga di dunia maya. Jika ternyata kita susah dicari di dunia maya, kita akan dianggap oleh orang lain sebagai sosok yang menutup diri. 

Sama halnya dengan kehidupan kita di dunia nyata. Jika kita tidak pernah bergaul dengan tetangga, kita juga akan disangka sebagai orang yang suka menutup diri. Bahkan parahnya lagi, kita akan dianggap sebagai orang yang berbahaya karena kebanyakan teroris di negara ini sering identik dengan sosok yang tertutup dan tidak pernah bergaul dengan tetangga.

Namun bukan berarti jika kita tidak terlihat di dunia maya, lantas kita dianggap sebagai orang yang berbahaya. Dan hal itu pun bukan berarti bahwa kita adalah orang yang tertutup. Beberapa alasan mengapa orang tidak terlihat di dunia maya antara lain karena mereka memang bukan pengguna internet, karena mereka terlalu sibuk mengurusi dunia nyata, karena mereka tidak telaten jika harus menggunakan telepon pintar ataupun komputer setiap saat, ataupun karena mereka menginginkan hidup tentram di dunia nyata.

Terkadang terasa lucu jika kita telah mengenal seseorang di dunia nyata dan ternyata kita mengetahui bahwa kehidupan orang itu di dunia maya jauh berbanding terbalik di dunia nyata. Gambarannya seperti ini: Misalnya teman kita terlihat bersahaja, santun, dan kehidupan pribadi dan keluarganya terkesan baik-baik saja. Namun ternyata, setelah kita tergelitik untuk mencari tahu tentang bagaimana dia di kehidupan maya, kesantunan dan kebersahajaan dia langsung sirna. Dia ternyata sangat liar di dunia maya. 

Dari gambaran tersebut, mungkin saja si teman kita itu memang sengaja menunjukkan jati diri dia yang tidak asli di dunia maya. Namun alangkah lebih baik jika dia menggunakan nama samaran. Tingkah dia seperti itu di dunia maya akan mengakibatkan orang-orang membuat kesimpulan yang bermacam-macam. Atau apakah dia menginginkan hal itu terjadi? Lalu apa tujuan dia? Kepuasan pribadi? Menggiring orang untuk menggunjingkan dia? Menggiring orang untuk berbuat dosa?

Terlepas dari dosa tidaknya bergunjing, bukankah lebih baik jika dia tidak perlu bertingkah di dunia maya? Tidaklah perlu untuk mengumbar masalah, kecantikan, ketampanan, kekayaan di dunia maya jika ujung-ujungnya hanya akan membuat orang lain menggunjingkan dia. Alangkah bijaknya jika dia berpikir ulang untuk mengunggah sesuatu tentang kehidupan pribadinya. Mestinya jika dia berpikir rasional, dia akan benar-benar mempertimbangkannya sebelum mengunggah, mengingat bahwa penduduk dunia maya kebanyakan senang menilai orang.

Buat saya pribadi, nyata dan maya memang harus seimbang karena saya memaklumi perkembangan teknologi internet. Namun, saya tetap akan memprioritaskan kehidupan nyata karena saya adalah makhluk yang kasat mata yang menghargai jabat tangan dari orang lain, menikmati aroma segar udara pagi, menyukai halusnya bulu kucing, dan mengagumi senyuman tulus dari orang lain yang tidak terganggu sinyal internet. 

18/04/2023

Swallow Your Pride

No need to feel shy
No matter to not deny
Those faults you have made
That's what makes you level up your grade

To confess is not to feel less
It's not making your life a mess
Who has a spotless life anyway
Human errs every day

        Who is asking you to look perfect
        Don't deceive yourself
        There's no point in being too strict
        Listen to yourself, don't be deaf

Own up to your mistakes, swallow your pride
Whatever it takes, swallow your pride
It's never too late to be truly honest
Cause you're the bravest
If you swallow your pride.

It's always feeling good to let it out
Yes, shame is what you worry about
It shall anyway vanish
Like what all wrongdoers wish
So swallow your pride
To let the chance open wide


        
        

 

Childless or Childfree?

 There are always stages of changes when deciding about your life. Well, it is not about making decision. I would rather call that as accepting. On one stage of your life you decide to do plan A. But because plan A is not working, then you decide plan B. Then plan B results in zero. Are you going to go through C to Z? Maybe yes if you want to get cranky and depressed. Or you stop; either to feel hopeless or just want to swallow that fact and live with it.

When a woman decides to get married, naturally she will want to have children. However, she must realize that not all women are easily getting pregnant. One woman can wait only one month after the wedding to know that she is pregnant successfully. Another woman must wait for the pregnancy longer than one year, even years. She either has to force herself to get pregnant by using the medical technology or chooses to finally not have a child. 

The woman who can finally have a child with the help of modern technology will feel happily relieved because she can look like a normal woman in the eyes of the society. That normality is what the society hopes from a woman. Meanwhile, the woman who has not been pregnant within years of marriage and who finally decides to be childless (no adoption whatsoever) will be regarded as imperfect by the society. Then how will that woman react? She must choose either to care less or live in despair.

There is one young, famous influencer from Indonesia who doesn't need to wait for a long time to make a decision to have children or not and is so proud of being childfree. I myself don't have problems with that. I will, however, consider her as a big, serious problem if she thinks that being a woman with children is a bad idea and encourages all young women who follow her to be childfree. But, I must understand that her job as an influencer is to influence her followers. It's up to her followers whether to do what she says or to disagree with her. 

And for me, a forty four year old, married but childless woman, to say that a woman is childless or childfree depends on the perspective. From my perspective, a woman saying that she is childless shows that she actually wants to have a child, but can finally accept the fact that she cannot be pregnant or adopt a child. If a woman says that she is childfree, she shows her true self of being a woman who needs to be stress-free from the existence of a child in her life. 

What about you? How will you label a married woman who doesn't have a child? Childless or childfree? How you will label her will define how you face your life, how you view life, and how you make important decisions for your life.

27/03/2023

Bisa bedakan "-nya" dan "-Nya"?

Materi bahasa Indonesia memang gampang-gampang susah. Saya sendiri yang orang Indonesia juga masih bimbang apakah saya harus menggunakan kata "jaman" ataukah "zaman". Walaupun sebenarnya saya bisa memeriksanya sendiri di aturan bahasa Indonesia yang baku yang bisa saya cari di Google. Ibaratnya sesederhana "one click away", semua masalah tentang kebimbangan pengetahuan bisa dibereskan dengan cepat. Termasuk kebimbangan tentang mana yang benar: "mengkonsolidasikan" ataukah "mengonsolidasikan". Ada beberapa warga asing yang belajar bahasa Indonesia mengatakan bahwa hal yang paling sulit dalam bahasa Indonesia adalah imbuhan yang berupa awalan, sisipan, dan akhiran.

Saya mau ambil contoh penggunaan akhiran "-nya":

1. Wah, ternyata bolanya jatuh ke parit. (-nya di kata "bolanya" berarti menggantikan kata tunjuk)

2. Saya bertemu Bu Wanda dan anaknya. (-nya di kata "anaknya" berarti pengganti kata milik orang)

3. Tuhan menyayangi makhluk ciptaan-Nya. (-Nya di situ berarti menggantikan milik Tuhan)

Masih banyak contoh penggunaan akhiran -nya yang lain. Tapi karena saya bukan ahli bahasa Indonesia, tiga contoh sudah cukup.

Ada contoh menggelitik yang berhubungan dengan akhiran "-nya". Saya akan berikan contoh caption di di satu momen peringatan keagamaan. Mestinya contoh caption ini pun bisa ditemukan di artikel yang membahas caption yang sesuai dengan tema momen tersebut. Ini contohnya yang sudah saya lihat juga di artikelnya: "Semoga Tuhan senantiasa bersama dengan mereka yang mengingat penciptaan-Nya, merenungkan serta merasakan ketenangan di tengah keramaian dunia." Apakah ada keanehan terasakan dari kata "penciptaan-Nya"? Buat saya, tidak ada yang aneh. Kalimat itu benar secara makna, makna yang saya pahami. Kalimat di atas adalah doa buat mereka (yaitu umat manusia dan makhluk lain yang juga ciptaan Tuhan) yang mau mengingat penciptaan Tuhan. Penciptaan maha karya Tuhan sudah selayaknya harus diingat dan direnungi agar umat bisa selalu sadar dari mana mereka berasal. Itu yang saya pahami karena saya yakin bahwa Tuhan itu maha pencipta dan Dia tidak diciptakan.

Nah, yang membuat saya jadi agak merasa aneh adalah ketika ada ralat untuk doa itu. Ada pihak yang meralatnya menjadi begini: "Semoga Tuhan senantiasa bersama dengan mereka yang mengingat pencipta-Nya, merenungkan serta merasakan ketenangan di tengah keramaian dunia." Kok rmereka (umat) seakan-akan disuruh mengingat siapa yang menciptakan-Nya. Nah, berarti kalimat doa itu menimbulkan kesan bahwa kita umat manusia harus ingat bahwa ada yang menciptakan Tuhan. Lho??

Ada dua kemungkinan yang terjadi pada dia yang meralat itu. Kemungkinan pertama adalah dia termasuk golongan orang yang mempercayai bahwa Tuhan itu ada yang menciptakan. Berarti dia percaya ada yang lebih Maha daripada Tuhan yang dia sembah. Dari ritual yang dia lakukan sebagai umat, dia menyembah Tuhan; bukan penyembah pencipta Tuhan. Berarti kemungkinan pertama bisa saya bantah sendiri. Kemungkinan kedua, dia termasuk yang tidak paham tentang teori bahasa Indonesia. 

Namun, apa mau dikata? Orang mempunyai kecenderungan untuk menilai salah dan benar, cocok dan tidak cocok. Saya berusaha memahami dia yang meralat itu. Saya berusaha di sudut pandang dia; sudut pandang orang yang kurang bisa menelaah informasi tertulis. 

Bagaimana? Sudah membaca sampai akhir tulisan ini? Terima kasih. Selamat memahami sudut pandang saya.

30/12/2022

The Absurdity of Oversharing

Every time I get informed about some random people's personal lives being on the news; local, regional, or even national, I cannot stop thinking about their life. Are they feeling comfortable while their personal lives are being consumed by society? Or are they feeling proud of being famous? 

Years ago when the internet was not for everyone, personal life stories were shared between family members, close friends, or neighbors. They were trusted that they would not share the stories to people outside of the circle. Those who were not in the circle were not supposed to hear the stories. Personal lives, therefore, remained personal.

And not to forget about celebrities' personal lives, years ago not many people really cared about their idol's personal life. They chose to care about admiring his/her work in the field of music, movie, or art. If they wanted to dig deeper about his/her personal life, they had to buy some magazines or newspapers. Or they waited for a TV program airing celebrities' life stories. From what I remember, TV programs about celebrities' lives in the old days were aired not as often as these days.

Nowadays, when the internet is unlimitedly accessible for everyone, we are forced to consume the personal lives of either celebrities or ordinary people. Though we are not interested in one celebrity, we might stumble across an article, or at least a trashy clickbaiting headline discussing that celebrity's personal life. And it is an eyesore!

The worst part is when TV stations and online media are bombarding us with tragic, bad news about ordinary persons' personal life. From the case of adultery to domestic violence, it all starts from the persons' careless decision to post it on social media. And, of course, that social media post can be a 'valid' source for those infotainment journalists to produce news. The more sensational the news they produce, the more clicks they will get, and the more money will come to them. 

To be honest, it's a good thing when we like to write and we can make money from our writing. And, in fact, the internet is one of the best places for persons who have a passion to write. However, it will be much wiser if they choose some better topics to write; not just some crappy stories about someone's embarrassing misfortune.

Now, don't you think that some people are so absurd that they over share their dirty laundry on social media? What is their purpose in doing so? Do they need supports from their followers whom they mostly don't recognize? Or do they want to be famous by sharing a sensational story about their personal life?  

For me, over sharing on social media is pointless. Let me keep my dirty laundry for myself. And let me finish it without asking for attention online.

13/09/2022

Problems Happen

We often experience some mental fatigue when everything seems to go out of our control; the missed deadlines, the angry customers, the unfinished housework, the toxic relationships, and some other problems of life. 

How happy our body when we feel very tired after doing restless physical activities. Our body really knows its function to sense its power limit. Our body also absorbs every positivity from a good quality of rest.

However, the situation will be quite different when we are mentally exhausted. Our body feels the urge to burst out and we are not able to enjoy our rest. I know that feeling all too well. And I know why it happens to me. One clear cause is that I force myself to multitask. I am not a qualified person to do multitasking stuff, and when I force myself to do it, I get burnouts.

Anyway, when we are still alive, problems will always happen. Those problems are what make our life worth living. They will make us stronger and wiser as long as we don't run away from them. It is a good thing to choose to deal with our problems because that makes us human. Human beings are always allowed to choose options when dealing with their problems. They are allowed to make bad decisions.

So, when you are still breathing, just accept the fact that problems, easy or difficult, will come to you. Enjoy your time when facing them before you come to your final destination: death.

21/04/2022

Kreativitas Perempuan

Pernahkah terlintas di benak kita tentang gambaran sosok perempuan masa lalu? Munculkah sosok imajinatif perempuan beruban dan mengenakan kebaya? Bagaimana gambaran sosok perempuan masa kini? Berpakaian ala pekerja kantoran dengan sorot muka cerdas? Lalu muncul sosok seperti apakah sosok perempuan masa depan? Berpakaian ala tokoh anime Jepangkah?😁

Apapun dan bagaimanapun sosok perempuan di benak kita, satu hal yang pasti adalah perempuan-perempuan itu mempunyai satu kesamaan, yaitu femininitas. Mereka makhluk yang lembut, sabar, dan penyayang. Secara struktur biologis pun mereka diharuskan untuk jadi makhluk yang lembut, yang seharusnya melakukan aktivitas apapun dengan penuh elegan. 

Berkat femininitas itu pula, perempuan dianugerahi panjang akal. Pernyataan tersebut bukannya tidak berdasar. Saya mengutip dari www.rolling stone.com:

"A new study from music researchers has found that women are engaged in creative fields like art, music, and literature at higher rates than men - and are generally more creative than men."

Saya sebagai perempuan merasa bersyukur karena dianugerahi tubuh yang ternyata sangat mendukung untuk jadi orang yang kreatif. Banyak perempuan yang nyatanya bisa mendapatkan kesuksesan ketika mereka berkiprah di dunia seni dan sastra; dunia yang menuntut kreativitas tinggi. Meskipun memang banyak juga dari pihak laki-laki, keberadaan perempuan yang mampu sukses di bidang itu padahal mereka juga melakukan aktivitas harian yang sangat padat, membuktikan bahwa perempuan memang makhluk hebat.

Para perempuan yang membaca tulisan ini pasti mengingat saat-saat berada di situasi genting, dan tiba-tiba ada ide untuk menyelesaikannya ataupun keluar dari situasi genting tersebut. 

Di situasi yang mengharuskan orang untuk segera mengambil tindakan yang kreatif, perempuan pasti lebih cepat memunculkan idenya. Hal itu bisa jadi disebabkan oleh kebiasaan perempuan yang lebih sering mengedepankan emosi terlebih dahulu daripada pikiran-pikiran logis.

Seandainya yang didahulukan adalah logika, akan muncul banyak pertimbangan yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan keraguan. Namun karena perempuan dikatakan lebih emosional, maka wajar saja jika ide-ide kreatif bermunculan dari benaknya berkat dorongan emosional untuk segera keluar dari masalah.

Maka berbahagialah para perempuan pada hari ini, 21 April, yang diperingati sebagai hari Kartini dan sekaligus hari Kreativitas dan Inovasi Sedunia. Semoga para perempuan Indonesia, yang dikaruniai berkah kreativitas yang luar biasa, selalu tetap bersahaja dan memahami kodratnya sebagai perempuan, serta tidak pernah memandang sebelah mata terhadap laki-laki.

18/04/2022

2020-2021

I have no idea about the way I think of 2020 and 2021, but I feel as if those two years didn't happen. I guess the pandemics played a big role why that happened to me. I don't recall many important things I have done in those two years, except the fact that I had to prepare so many complicated things concerning online teaching.

When I talk to some friends of mine about the 2020 and 2021 that didn't really happen, some agree with me. They think that those two years feel like dreams. This is perhaps because we were at home too often when pandemics hit. We didn't remember doing important things in those years.

I read some random articles about conspiracy theories that the years of covid pandemics were just simulation🤣. Well, maybe those conspiracy theorists were right after all because we human beings were experimented by the "higher power" to suffer from covid to know whether we were strong or not. Those who were not strong were eliminated by death, and those who were strong were told to be vaccinated.

And that's when the big pharmas win. So, let me just think that the big industries of pharmacies were responsible for making those two years feel like nothing. They were probably wanting those two years as simulation. And now they can predict the human behaviour when  facing pandemics. 

The human behaviour is predicted to be easily controlled when they are in fear. They also have the tendency to be very obedient when they are faced with government rules. They wear a mask not because they want to be free from covid; but because they want to avoid the sanction. 

They agree to be vaccinated THREE times not because they don't want to be infected by covid; but because they need to get access to public facilities: malls, train stations, government bureaucracies. They need vaccines because they want to apply for a job. They need vaccines because they want to be able to meet their big families for Eid al Fitr.

What a nice collaboration of big pharmas and every government in this world: to keep human beings healthy and to make them more obedient to the government.

31/01/2022

Mengapa Kepalsuan Semakin Parah

Pernahkah terlintas di benak kita tentang orisinalitas gaya hidup kita? Sadarkah bahwa apapun yang terjadi di kehidupan kita, ada peran pihak lain yang 'mencetak' diri kita? Tidak bisa dipungkiri memang jika kita tidak bisa menjalani kehidupan tanpa campur tangan pihak lain. Campur tangan orang lain yang bersifat membangun, serta campur tangan yang bersifat mengintimidasi.

Àda yang bilang bahwa kita butuh role model untuk menjadi lebih baik. Ada juga yang bilang bahwa kita perlu selalu menunjukkan sisi terbaik kita. 

Namun jika saya membandingkan dengan prinsip hidup: 'ketika tangan kanan berbuat baik, jangan biarkan tangan kiri mengetahuinya', prinsip itu sama logisnya juga dengan: 'ketika tangan kiri berbuat jelek, jangan biarkan tangan kanan mengetahuinya'.

Perbandingan yang saya deskripsikan memang konyol. Akan tetapi, saya dianugerahi otak yang bisa saya manfaatkan untuk berpikir. Saya pun bebas berpikir dengan konyol.😅

Dengan adanya tuntutan dari kehidupan modern yang memaksa kita untuk berlaku sempurna di mata orang lain, seakan-akan kita dipaksa untuk selalu menggunakan tangan kanan kita. Kita dipaksa untuk terlihat prima, baik, cantik, tampan, berhati malaikat, tidak pernah melakukan kesalahan di mata orang lain. 

Betapa malangnya nasib tangan kiri. Betapa malangnya 'potensi' kita untuk menjadi lebih 'mengerikan' andaikan kita menggunakan tangan kiri kita. Potensi itu kita pendam dengan paksaan karena ketakutan kita akan tercemarnya harga diri kita jika potensi itu mendadak muncul. Akan sangat memalukan di mata orang lain.

Apapun yang kita tunjukkan di mata orang lain, betapa menderitanya kita jika kita terus-terusan menghilangkan peran 'tangan kiri', padahal tangan kiri itu adalah bagian dari kita juga. Lambat laun tangan kiri tidak akan bisa difungsikan. Akibatnya kita tidak bisa menjadi seutuhnya kita.

Sekarang abaikan perumpamaan saya yang menggunakan tangan kanan dan kiri. Mari kita pahami keberadaan kita di dunia sosial. Gebyar yang kita tunjukkan di kehidupan sosial, entah itu di kehidupan nyata ataupun maya, semua adalah sisi hebat, sisi berkelas, sisi wow dari diri kita. Sisi gebyar yang seakan kita lupa bahwa kita masih punya sisi yang lain. Sisi gebyar yang justru memperlihatkan betapa palsunya kita.

Semakin kita mengikuti arus yang terjadi di kehidupan sosial, semakin sempurna pula kepalsuan kita. Semakin kita menuruti hawa nafsu untuk memuaskan keinginan publik, semakin jauh kita dari otentisitas kita. 

Mari berdamai dengan diri kita yang memiliki sisi lain. Mari kita terima keberadaan sisi lain itu agar kita bisa dengan mudah mengolah sisi lain itu.


31/12/2021

Living for Life

Deep down, I often feel that this year 2021 moves very fast. There have been so many unexpected things happening in this year. 

Those unexpected things really influenced the way I look at situations and people. Some people don't realize that they show their true colours when they behave in a certain way, or when they talk about some trivial stuff.

When a certain situation forces people to do what they hate doing, maturity has begun its process to them. Like it or not, they have to face and do the process. And when out loud shouts and curses come out of their mouth, that is very humane.

Anyway, as human beings, we have a responsibility to live this life. I suppose there is not an obligation to live this life like angels. Angels don't have bodies; in other words, they don't live physically. And that means angels won't be able to make mistakes because there's no brain and body that can "facilitate" them to make mistakes.

We, humans, on the other hand, have a brain and a body that can "help" us to do stupid things, to think rationally when making decision with the consequences of hurting others' feeling, and to create chaos.

Whatever weaknesses that we have, we must live this life to the fullest. Let's never stop being humble and kind, let's ignore those who are toxic, let's learn from our mistakes when we make them.

2021 will end very soon. 2022 will feel very fast, pandemics or not, if we live our life to the fullest, facing whatever comes to us with our brave heart.