Labels

15/08/2026

Andai Saja

Andai saja saat itu aku lebih sigap, mungkin nyawa suamiku bisa terselamatkan.

Andai saja saat itu aku tidak anggap muntahnya suamiku adalah akibat naiknya asam lambung, mungkin dia masih hidup sekarang.

Andai saja malam itu aku tidak ketiduran saat nonton TV bersama suamiku, mungkin aku jadi lebih waspada akan perubahan roman muka suamiku yang sedang menahan sakit.

Andai saja aku tidak pernah ketiduran di depan TV setiap malam dan selalu menemani suamiku begadang, mungkin saja saat ini suamiku sedang bersamaku dan hidup.

Andai saja saat itu aku tidak membuatkan kopi untuk suamiku, mungkin saja malam itu dia tidak terkena serangan stroke, dan saat ini dia mungkin masih baik-baik saja.

Andai saja kucegah suamiku dari merokok terus menerus malam itu, mungkin saja dia masih ada saat ini.

Andai saja kupaksa suamiku agar segera tidur malam itu dan tidak usah pedulikan data kerjaan, mungkin saja dia masih bisa bercengkerama bersamaku saat ini.

Andai saja malam itu ada stok obat darah tinggi, mungkin saja nyawa suamiku masih bisa diselamatkan.

Namun apalah daya, aku harus terima suratan takdir.

Senin Wage malam, 6 Juli 2026, saat itulah aku menjadi istri yang hancur. Istri yang tidak bisa sigap menyelamatkan suami dari serangan stroke.

Andai saja dia kuantar ke IGD lebih awal, semua ini tidak akan terjadi.

Namun apalah daya, aku bodoh soal tanda-tanda serangan darah tinggi.

Andai saja malam itu aku langsung bawa suamiku ke IGD segera setelah dia muntah-muntah, mungkin aku tidak perlu menangis sejak 6 Juli malam hari sampai kini.

Dan kini, hari ini 36 hari meninggalnya suamiku, aku cuma bisa menangis kehilangan dia dan mendoakan dia.

No comments:

Post a Comment