Berat sekali rasanya hidup ini setelah meninggalnya suami saya. Rasa bersalah terus menghantui, padahal kami berdua sedang tidak mengalami konflik. Semuanya baik-baik saja. Malahan kami sudah berencana untuk menikmati perjalanan bis antar kota. Hanya untuk berkunjung sejenak ke Surabaya tanpa tujuan berarti, kemudian balik lagi ke Madiun. Kami memang menunggu momen bulan Juli setelah minggu ketiga karena suami memperkirakan saat itu beban kerja sudah tidak terlalu berat.
Namun itu hanya tinggal rencana. Tanggal 11 Juli 2026, setelah maghrib, suami saya dinyatakan meninggal oleh dokter di ICU. Walaupun berbagai doa sudah saya ucapkan di dekat telinga suami saya saat tim perawat berusaha menyelamatkan nyawa suami saya, Tuhan berkehendak lain. Ternyata memang itulah saatnya suami saya harus berpulang. Saat itu pula, saya merasa kosong.
Sosok yang selalu membuat saya antusias menyambut hari sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sosok yang saya doakan agar selamat ketika berangkat kerja tiap paginya, ternyata sudah tidak ada lagi. Sosok yang selalu saya sambut dengan lega setiap pulang kerja, ternyata sudah kembali ke Sang Pencipta.
Kematian suami saya ternyata membuat separuh saya pun mati. Separuh saya yang hanya suami saya yang tahu; orang lain tidak tahu. Separuh saya itu, sisi mentah saya itu, langsung terkubur saat suami saya dimakamkan. Tidak akan pernah ada lagi separuh saya itu.
Ada lagi yang lain yang ikut terkubur. Rencana kami berdua. Semua punah. Rencana bersenang-senang berdua, rencana membesarkan usaha, rencana menua bersama, rencana suami saya yang ingin fokus menjalankan usaha saja tanpa perlu lagi menjadi budak korporat. Betapa bahagianya saya ketika saya tahu bahwa suami saya punya keinginan untuk mengakhiri bekerja pada akhir tahun ini. Pasti akan banyak waktu buat kami berdua selalu bersama. Saya pun tidak harus waswas setiap kali dia berangkat kerja karena resiko berkendara di jalan sangat besar.
Dan ternyata, saya kini tidak perlu lagi waswas akan keselamatan suami saya saat berkendara untuk bekerja karena dia sudah tidak lagi bekerja. Dia sudah tidak perlu berangkat kerja lagi. Dia sudah dikubur, bersama separuh saya dan rencana-rencana kami berdua.