Labels

Showing posts with label Language Learning. Show all posts
Showing posts with label Language Learning. Show all posts

14/08/2026

Tiga Kematian Sekaligus

Berat sekali rasanya hidup ini setelah meninggalnya suami saya. Rasa bersalah terus menghantui, padahal kami berdua sedang tidak mengalami konflik. Semuanya baik-baik saja. Malahan kami sudah berencana untuk menikmati perjalanan bis antar kota. Hanya untuk berkunjung sejenak ke Surabaya tanpa tujuan berarti, kemudian balik lagi ke Madiun. Kami memang menunggu momen bulan Juli setelah minggu ketiga karena suami memperkirakan saat itu beban kerja sudah tidak terlalu berat. 

Namun itu hanya tinggal rencana. Tanggal 11 Juli 2026, setelah maghrib, suami saya dinyatakan meninggal oleh dokter di ICU. Walaupun berbagai doa sudah saya ucapkan di dekat telinga suami saya saat tim perawat berusaha menyelamatkan nyawa suami saya, Tuhan berkehendak lain. Ternyata memang itulah saatnya suami saya harus berpulang. Saat itu pula, saya merasa kosong.

Sosok yang selalu membuat saya antusias menyambut hari sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sosok yang saya doakan agar selamat ketika berangkat kerja tiap paginya, ternyata sudah tidak ada lagi. Sosok yang selalu saya sambut dengan lega setiap pulang kerja, ternyata sudah kembali ke Sang Pencipta.

Kematian suami saya ternyata membuat separuh saya pun mati. Separuh saya yang hanya suami saya yang tahu; orang lain tidak tahu. Separuh saya itu, sisi mentah saya itu, langsung terkubur saat suami saya dimakamkan. Tidak akan pernah ada lagi separuh saya itu.

Ada lagi yang lain yang ikut terkubur. Rencana kami berdua. Semua punah. Rencana bersenang-senang berdua, rencana membesarkan usaha, rencana menua bersama, rencana suami saya yang ingin fokus menjalankan usaha saja tanpa perlu lagi menjadi budak korporat. Betapa bahagianya saya ketika saya tahu bahwa suami saya punya keinginan untuk mengakhiri bekerja pada akhir tahun ini. Pasti akan banyak waktu buat kami berdua selalu bersama. Saya pun tidak harus waswas setiap kali dia berangkat kerja karena resiko berkendara di jalan sangat besar.

Dan ternyata, saya kini tidak perlu lagi waswas akan keselamatan suami saya saat berkendara untuk bekerja karena dia sudah tidak lagi bekerja. Dia sudah tidak perlu berangkat kerja lagi. Dia sudah dikubur, bersama separuh saya dan rencana-rencana kami berdua.

18/04/2025

Umur bukan hanya Angka

46 memang angka biasa buat orang-orang yang tidak menganggap angka 4 dan 6 spesial. Tapi kalau mereka adalah penggemar Motogp, pastilah 46 adalah angka keramat. Mereka yang selalu menikmati suguhan Motogp selama kurang lebih 20 tahun pasti tahu Valentino Rossi dan angka itu.

Saat ini, angka 46 juga spesial buat saya karena hari ini saya genap berusia sejumlah angka itu. Ucapan selamat ulang tahun yang pagi tadi saya dapatkan adalah dari Unit Donor Darah PMI Madiun karena memang data saya tersimpan di sistem itu sebagai pendonor😁. Mungkin nanti ada lagi ucapan selamat dari beberapa aplikasi belanja online😂. Saya maklumi kalau saya tidak mendapatkan ucapan selamat dari suami saya karena hari lahir hanyalah hari biasa bagi kami berdua.

Dan walaupun saat ini ungkapan isi pikiran saya sedang saya tuangkan di blog ini, bukan berarti bahwa saya menganggap bahwa tanggal hari ini adalah tanggal spesial. Kemampuan menulis saya sedang saya ragukan saat ini. Hampir selama 7 bulan, otak saya penuh dengan berbagai ide tulisan, tetapi tidak pernah sekalipun bisa terkonsep di blog ini. Kelihatannya otak saya ini sedang menikmati istirahat semenjak saya tidak menjadi orang yang punya jam kantor 08:00 - 16:00, alias dirumahkan.

Ya. Dirumahkan. Atau istilah kerennya adalah pensiun dini. Atau mengundurkan diri dari bekerja. Mungkin ada juga yang beranggapan bahwa saya sudah tidak bekerja lagi karena perusahaannya bangkrut. Yang jelas, pada usia 46 tahun ini, saya yakin bukan saya penyebab tutupnya lembaga tempat saya mengajar itu. Dan itu salah satu pencapaian saya di usia 46 ini: tidak menjadi penyebab tutupnya lembaga tempat saya bekerja.

Angka 46 saat ini bukan hanya angka bagi saya; tapi juga berarti umur yang telah saya capai di saat saya memperoleh pencapaian-pencapaian lain. Pada umur ini, saya sudah berani membuat keputusan untuk tidak lagi terikat dengan rutinitas wanita pekerja. Tidak lagi harus berdandan rapi jali, berpakaian resmi, berangkat pagi dan pulang sore hari hanya demi tiap bulan mendapat gaji. Tapi pastinya juga diridhoi oleh suami ketika saya bilang ke dia bahwa saya tidak akan mencari-cari lowongan pekerjaan mengajar lagi.

Selain itu, pencapaian saya yang lain adalah "keterpaksaan" saya untuk mempelajari hal baru, yaitu tentang pestisida dan pupuk. Ya karena saya menjalani peran istri yang tidak bekerja kantoran, alias di rumah saja, saya sigap saja menjalankan usaha kecil berupa kios pertanian milik suami saya di depan rumah. Jadi, biar saya tidak terlihat dungu saat ditanya calon pembeli, mau tidak mau saya banyak membaca info tentang pestisida dan pupuk.

Sebenarnya masih ada beberapa pencapaian lain yang sudah saya raih, namun saya pikir itu hanya pencapaian remeh. Ada satu pencapaian yang akan saya tulis di sini. Suami saya pun belum saya beritahu tentang pencapaian ini. Nanti mungkin saat dia membaca ini, baru dia akan tahu.

Pencapaian itu ada kaitannya dengan alasan mengapa saya mendadak rajin olahraga jalan pagi dan mengurangi makan. Saya memang tergolong ke dalam perempuan setengah baya yang berat badannya berlebih, dan kelihatannya akan susah menurunkan berat badan jika alasannya remeh. Contoh alasan remeh versi saya adalah ingin terlihat seksi, biar baju-baju yang masuk museum bisa muat lagi, ataupun biar sehat.

Saya punya alasan kuat mengapa saya harus rajin jalan pagi dan mengurangi makan. Alasan saya berkaitan dengan saat saya mati nanti. Saya tidak ingin menyusahkan orang-orang yang memandikan jenazah saya dan yang menggotong tubuh saya ke liang lahat nanti. Saya tidak mau tubuh saya berat, karena saya yakin dosa saya juga berat. Masak waktu saya mati saja masih harus menyusahkan orang lain karena berat tubuh saya.

Jadi, berapapun umur kita, pasti selalu ada pencapaian-pencapaian kecil yang sudah diraih.

17/05/2020

Smile with Our Eyes

Who doesn't love to look at a beautiful, genuine smile? It warms our heart. So, if we want to warm others' heart, why not giving our bestest, most sincere smile? 

However, with our new habit of wearing a mask to protect from covid19, we are hiding that precious thing of ours. We are not able to show that our lips are really smiling.

If we cannot smile with our lips because of wearing a mask, we can still smile with our eyes, or smize. To show that we smize, or that we smile with our eyes, we just need to produce real smiling lips behind the mask. I guess everybody has the ability to produce a genuine smile. Then it is still easy to smize.

When we really master the art of smizing, we don't need our lips to produce a smile. We just need to use the area of our eyes. But it is not that easy. It needs a lot of practice. I am myself still working on it.

It will not be that difficult to smize when we assume that we are looking at our lovely pets or someone we love. Just imagine we are in that situation. Then when our lips are about to produce a smile, just hold it, and let our eyes continue the smile. Voila! We are smizing.

Be happy when smizing.

08/09/2018

Fact or Opinion?

When I was with some friends talking about English grammar, we had a little debate about the use of simple present tense. We had a difficulty in defining whether some statements belonged to facts or opinions. According to Azar (1989), it is used for general statements of fact and to express everyday activity. One example of general statements of fact is: The moon shines at night. This statement is, no doubt, a very true fact. Everybody in this world will agree to that fact.

Then one of my friends gave an example of fact statement: Justin Beiber sings perfectly. Because I am not a fan of Justin Beiber, I protested. I said that it was only an opinion, not a fact. But she insisted that it was a fact. Then I realized why she made that statement. It was because she adored him so much.

After some hilarious debate, we finally concluded that simple present tense is also used to express an opinion. A statement like Chris Evans is handsome is just an opinion. For ladies who love to look at his face, including me, that statement feels like a fact. But for others who don't adore him or even envy him will say that the statement is just an opinion.

For those who can really see that the earth is round like a ball, there comes the general statement of fact that the earth is round. So we don't have to argue with those who cannot really see that the earth is round. Those people will make a statement like this: The earth is not round. The earth is flat.(Or the earth feels flat.)

Like what Marcus Aurelius said long long time ago: Everything we hear is an opinion; not a fact. Everything we see is perspective; not the truth.