Labels

16/01/2017

With intention or for attention?

The title I typed makes me smile. Everything that most people do on the internet is always with intention and for attention. Like what I am doing now; I am typing this thought and I have the intention to post it in the hope that some people on the internet will pay attention to this. If I don't get any attention, I don't even care. But at least what has been swimming in my mind can come out as written words.

When people explore their social media account, they will do so many things. They read, comment, check others' pictures/videos, upload, download, etc. What I do most on social media is just reaction. I pay attention to the writings; that means I read; I download things that, of course, is downloadable. I enjoy looking at pictures (if it's really enjoyable). But I try to stop giving comments. Recently I feel awkward when I realize that many people know the way I talk in written language. If it's really important to talk to a particular person, I use the message feature.

As an action on social media, I occasionally post other influential persons' way of thinking which I agree and which I think it is worth sharing. I only have an intention to share; not to get attention. That's the point. In fact, normally people won't pay big attention to something a little bit serious on social media. They prefer paying much more attention to things with beauty, luxury, comedy, or maybe brutality. When a person uploads her/his picture of a vacation somewhere, it's like saying,"Hey, look! I have much money to pay for my vacation here!" When he/she posts a photo of his/her sexy body or cute face, it's like saying, "See? I am sexy, I am pretty, I am perfect." That is asking for attention. But I cannot complain because that's the use of social media; to share everything.

Now it's about good deeds that we do. Is it worth sharing? Is it fine to announce to everybody that we already give some of our money to the people who need it? Is it wise to inform people that our heart has been sincere when we help the poor? Well of course it's never wise to announce to everybody that we have hurt our best friend's feeling because it's a bad deed. People won't want their dark sides to reveal. It's really insane for example when a person tells everybody, or writes on social media, that he/she has just killed his/her neighbor's pet because that pet always enters the house! That's sick! Now with the logic of balance, if we want our bad deeds to be kept secret, why do we want our good deeds to be announced? Because we just want to get attention? Or because we want other people to think that we are an angel and we never do bad? So the best thing to do is: when we do something bad (hopefully not on purpose), keep it secret. And even when we do something good, keep it also secret. If we do it with intention to do a truly good deed, we don't want any attention.


18/04/2016

Tantangan Batas Kabupaten

Hari Minggu, tanggal 17 April 2016 terjadwal untuk berpetualang mengeksplorasi karesidenan AE bersama suami. Sasaran kami adalah perbatasan Ponorogo-Trenggalek, yaitu kecamatan Sawoo. Kami menghindari lalu lintas padat jalur provinsi. Lebih menyenangkan melewati jalan pedesaan karena kami tidak sedang terburu-buru. Saya dan suami tidak lupa untuk mampir di Jabung yang terkenal dengan dawetnya, dan yang harganya masih tetap murah; Rp 2500 per mangkok. Setelah selesai ndawet, kami melanjutkan perjalanan roda dua ke arah Sawoo. Setelah melewati persawahan dan perkampungan, akhirnya kami sampai di jalur antar kota Ponorogo-Trenggalek. Sudah terlihat bis usang jurusan Ponorogo-Trenggalek yang sedang berjalan pelan. Kendaraan yang lain hanya berupa truk dan mobil pribadi yang hanya sesekali melintas atau berpapasan. Sepeda motor pun juga tidak banyak. Jadi walaupun banyak tanjakan, kami serasa melewati jalan tol yang bebas hambatan.
Sebenarnya ada 2 hal yang baru yang kami temui selama perjalanan menuju ke perbatasan Ponorogo-Trenggalek. 2 hal itu sama-sama mengejutkan. Yang pertama adalah adanya pembangunan bendungan di tepat setelah perbatasan. Letaknya di kecamatan Tugu, Trenggalek. Bendungannya dinamakan bendungan Tugu. Benar-benar megaproject untuk pembangunan sekelas kabupaten kecil. Saya dan suami saya sebenarnya ingin sekedar beristirahat di warung yang ada di perbatasan. Namun karena banyak orang yang juga beristirahat menikmati sejuknya hawa di situ, terpaksa kami meneruskan gelinding roda motor sambil mencari warung lain di sepanjang hutan sejuk itu. Eh, malah kami dikejutkan oleh pemandangan di sisi kanan jalan yang berupa jurang yang terlihat banyak truk. Ternyata itu adalah untuk pembangunan bendungan tersebut.
Kejutan yang kedua baru saya sadari ketika perjalanan pulang. Setelah melihat pembangunan bendungan Tugu, kami memutuskan untuk pulang. Otomatis kami melewati jalan yang baru saja kami lewati. Pada saat perjalanan berangkat tadi, saya sering mengomel karena jalannya aduhai banyak lubangnya. Jalanan itu ada di kecamatan Sawoo. Suami saya pun sama; ngomel-ngomel juga. "Iki bupatine eruh pora?" adalah salah satu omelannya. Saya dan suami saya terus bersahut-sahutan komentar dan omelan mengenai jalan rusak itu. Omelan mulai berhenti ketika jalan sudah mulai mulus dan pemandangan sudah mulai bagus karena sudah hampir puncak, mendekati perbatasan. Nah, ketika perjalanan balik itulah yang membuat saya sadar bahwa ada hal lucu sekaligus miris yang saya lewatkan pada saat perjalanan berangkat karena hanya fokus mengomentari jalan rusak. Ternyata ada tulisan-tulisan bernada protes yang dipasang di sisi kiri kanan jalan. Tulisan itu memprotes kondisi jalan dan sekaligus memperingatkan pengguna jalan agar lebih pelan ketika melewati jalan itu. Lucunya adalah kalimat kreatif yang dituliskan. Contohnya, "jeglongane joss", "cintamu tidak sedalam lubang ini", "numpak montor rasa kuda", dan lain-lain. Mirisnya adalah ternyata kondisi jalan seperti itu sudah cukup lama. Yang mengherankan adalah pihak pemkab Ponorogo. Masak sih mereka tidak tahu menahu tentang kondisi jalan itu? Mestinya pihak kecamatan Sawoo sudah melaporkan kondisi tersebut kepada pemkab Ponorogo. Dan mestinya pemkab sudah melaporkan ke pemprov Jatim tentang kerusakan jalan itu. Karena jalan itu adalah jalan provinsi, berarti tanggung jawab perbaikannya ada di tangan pemprov.
Bagi yang ingin mengecek sendiri, selamat jalan-jalan.

20/11/2015

Padi dan rumput

Saya teringat tulisan di media sosial tentang padi dan rumput: Jika menanam padi, kemungkinan besar rumput pun bisa tumbuh, tetapi jika menanam rumput, tidak mungkin akan tumbuh padi. Sangat logis secara ilmu pertanian. Secara ilmu kehidupan, ya mesti logis juga.

Kita ibaratkan padi adalah tindakan yang bermanfaat. Sedangkan rumput adalah tindakan yang tidak bermanfaat. Ketika kita melakukan tindakan yang bermanfaat, bisakah muncul tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat sebagai reaksi dari tindakan bermanfaat yang kita lakukan? Sebagai contoh, ketika kita memberikan beras untuk tetangga kita yang kurang mampu, mungkinkah muncul prasangka dari tetangga kita yang lain bahwa kita hanya berniat pamer? Atau bahkan orang yang kita beri beras itu berprasangka bahwa kita ada maunya? Mungkinkah juga ada rasa iri yang timbul dari tetangga kita yang lain karena dia tidak diberi beras? Kemungkinan-kemungkinan buruk itu pasti ada.

Sebenarnya, efek positif dari tindakan kita pun akan muncul. Misalnya, tetangga kita tidak jadi kelaparan, kita pun bisa merasa bahagia karena bisa membantu orang, dan mungkin juga tetangga kita yang mampu menolong bisa termotivasi untuk menolong juga. Walaupun efek positifnya selalu ada, yang negatif pun bisa muncul pula. Jadi, jangan merasa heran ketika kita melakukan kebaikan, akan muncul efek-efek yang tidak baik. Ingatlah bahwa petani padi pun mengalami hal yang sama; niatnya menanam padi agar bisa dikonsumsi, malah rumput pun ikut tumbuh subur. Apakah petani marah ketika tahu bahwa rumput ikut tumbuh subur di tanaman padinya? Kalaupun memang dia marah, dia tidak membabati padinya sekalian; yang dia babat hanya rumputnya.

Nah, saya pernah dengan sengaja menanam satu jenis rumput. Pastinya yang tumbuh subur ya rumput itu, dan di sekelilingnya tumbuh rumput-rumput jenis lain yang ikut subur juga. Tidak ada padi yang tumbuh. Lha wong saya memang tidak menancapkan benih padi di tanah tempat rumput itu. Sama halnya dengan melakukan tindakan yang tidak bermanfaat. Sebagai contoh, ketika kita berkata kasar kepada orang lain, pasti akan muncul efek-efek negatif. Orang itu akan merasa sakit hati kepada kita. Suatu saat mungkin dia akan membalas perbuatan kita. Efek lainnya adalah rasa penyesalan kita. Adakah efek positif dari apa yang kita lakukan itu? Jika memang kepuasan diri kita setelah berkata kasar tersebut dianggap sebagai efek positif, berarti itu kurang tepat. Itu adalah pelampiasan hawa nafsu; dan pelampiasan hawa nafsu apapun merupakan hal yang tidak ada manfaatnya.

Jadi, jangan pernah takut melakukan kebaikan walaupun akan muncul reaksi-reaksi yang tidak baik dari kebaikan kita itu. Jika kita kuatir akan munculnya reaksi-reaksi negatif itu, kita tidak akan pernah melakukan kebaikan. Jika niat kita mulia, reaksi-reaksi negatif tersebut akan terkikis dengan sendirinya.