Labels

22/04/2015

Doing what you love

Have you ever been in a moment when you are still questioning about your passion? Is it true that what you are doing now is really your true passion? Or is it just the thing that you have to do to make a living?

Some days ago, I met an old friend of mine. She sold products of a famous brand. And I got interested in buying one product. After the transaction, she tried to influence me to join her to become the member. She said that it was a nice way to make money; by selling the products. I said no. The shocking thing coming from her mouth was: "Why are you so lazy to make money? You have to earn a living! So, selling these products is a good way. Why do you say no?"

Well, am I wrong if I say no? People with passions in selling will, of course, say that I am very very wrong. I am stupid, they say. But how if I say that I have my own passion in making money, and that's not selling products? I think people with passions other than selling will agree with me. We don't have to earn a living by selling products. We can earn a living by doing the things that we love. For example, if I really love gardening, I can do many things with that hobby. I can design a small park; I can give a short course on gardening; I can work in a florist; or even I can have my own florist. What?? Having my own florist?? Doesn't that mean I sell my flowers? If yes, what's wrong? That's my own business and I love that, and some people want to love that too. And if they want to buy the flowers from me, will I say no? Of course I will say yes. It's like meeting a soul mate when you love flowers and you meet a person who loves flowers too. And thanks to God if I can make money from doing the thing that I like. With all my heart, I would love to survive in that business.

Truly speaking, gardening is not my hobby. I was just giving an example. I have my own passion which I am doing with all my heart. God knows that I love doing that, so I believe He will give me what I deserve.

09/03/2015

begal kok dipelihara

Pagi tadi, untuk yang kesekian kalinya, saya disuguhi berita tentang begal motor. Setiap hari selalu ada berita tentang itu. Sempat terjadi perdebatan kecil dengan suami saya ketika kami sedang menonton berita itu. Saya bilang kalau ramainya begal itu gara-gara sering diberitakan. Seperti virus; ketika ditularkan, akan cepat menjangkiti banyak orang. Anggap saja satu berita begal itu virus. Ketika disiarkan beritanya (=baca: ditularkan), pasti akan banyak kejadian yang serupa. Dan hal itu akan terus disiarkan. Saya sampai bilang bahwa pemberitaan tentang begal malah memicu niat jahat orang untuk membegal pengendara motor. Maksud baik pemberitaan adalah memberitahu masyarakat untuk lebih waspada, tapi pada kenyataannya malah semakin banyak korban bermunculan. Suami saya berpendapat lain. Dia bilang bahwa semakin banyaknya korban begal diakibatkan karena kepolisian yang kurang tanggap.

Nah, ada di manakah para polisi ini? Kalau saya lihat, di setiap pos jaga polisi, mesti ada polisi yang bertugas. Dan mesti ada televisi yang menyala. Mestinya mereka menonton berita itu. Yang menjadi pernyataan adalah bagaimana reaksi mereka ketika menonton berita tentang begal itu. Apakah mereka saling berkomentar seperti layaknya bapak-bapak atau mas-mas yang ngopi di warkop sambil menonton berita? Atau apakah mereka langsung tergerak jiwa profesinya untuk segera membantu mengamankan daerahnya? Andaikan jiwa profesi mereka tergerak, mereka tentunya tidak boleh asal mengambil tindakan. Mereka harus menunggu perintah dari atasan. Masalahnya, apakah sang atasan berani tegas untuk mengambil tindakan? Lha wong mau ke mana-mana saja harus dikawal... Pengawalan untuk atasan mungkin saja bagian dari prosedur, namun harus dicamkan di benak semua polisi baik atasan maupun bawahan bahwa yang harusnya dikawal dan dilindungi adalah masyarakat.

Pernah suatu hari Minggu pagi, jam 1 dini hari, saya dan suami berkeliling kota Madiun. Niatnya ingin melihat keramaian pasar besar pas dini hari. Beberapa daerah tertentu masih ramai oleh anak muda yang nongkrong tiada guna sambil memamerkan motor dengan knalpotnya yang memekakkan telinga. Ada juga daerah yang kiri kanan jalannya penuh dengan parkir mobil dan motor karena di situ ada beberapa diskotik. Dan tentunya pasar besar. Pasar besar inilah yang ramai tapi membuat hati nyaman, tidak was-was. Tempat ramai lainnya pada dini hari itu membuat hati saya was-was karena bisa jadi rawan kejahatan. Dan ajaibnya, tidak terlihat satupun polisi yang hidup!! Pos polisi terlihat anteng karena tidak jelas apakah polisi di dalamnya sedang terjaga atau tertidur. Ya wajarlah kalau kejahatan semakin marak karena sang pengayom masyarakat terkesan ingin mengayomi diri sendiri. Pengayom masyarakat yang benar-benar ingin mengayomi masyarakat hanya ada di film-film.

Akan lebih tentram rasanya jika berita-berita kriminal tidak disiarkan untuk masyarakat, tapi untuk polisi saja, agar polisi tahu tanggung jawabnya. Jika masyarakat terlalu dicekoki berita-berita kriminal, mereka akan semakin terpuruk dengan rasa ketakutannya. Bagi mereka yang punya otak kriminal, mereka akan terpicu untuk semakin giat melakukan aksi kejahatan.

08/08/2014

Endonesia Kebul Kendaraan

Kalau ada yang belum kenal kata "kebul", kata ini diambil dari bahasa Jawa yang artinya asap. Semua kota di Indonesia sedang mengalami penderitaan karena kebul ini. Apalagi ketika arus mudik-balik yang baru saja berlalu. Pagi hari yang harusnya sejuk segar menjadi sesak di dada karena antrian kendaraan.

Yang membuat saya takjub adalah semakin banyaknya jumlah kendaraan itu. Berarti orang Indonesia bisa dikatakan mampu karena mereka bisa membeli kendaraan bermotor. Paling tidak mereka bisa membayar uang muka dan ketika disurvei oleh lembaga pembiayaan, mereka tergolong debitur yang tidak akan macet ketika mengangsur. Debitur senang karena mereka bisa naik kendaraan bermotor yang baru; dealer pun senang karena mereka bisa mencapai target penjualan. Lha lembaga pembiayaan? Senang juga karena modalnya bisa diputar.

Nah, saking banyaknya kendaraan bermotor di jalan, semua dibuat pusing; pengendara pusing karena macet dan asap,  pejalan kaki dan pengendara sepeda pancal pusing karena asap juga, penduduk di sekitar jalan jadi pusing karena suaranya yang bising, pemerintah pusing karena pasti akan ada pembengkakan dana (dana untuk perbaikan dan pelebaran sarana jalan, dana untuk pembebasan lahan untuk keperluan pelebaran jalan atau pembuatan jalan baru, dana untuk subsidi BBM, dan dana-dana yang lain).

Langkah pemerintah sebenarnya cukup bagus untuk menekan lajunya pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Misalnya adanya penentuan uang muka pembelian kendaraan bermotor yang harus minimal 25%-30% dari harganya. Ada lagi cara yaitu dengan menaikkan harga BBM hampir setiap tahun. Mungkin pemerintah berpikir bahwa jika harga BBM dinaikkan, rakyat akan pikir-pikir jika akan membeli kendaraan bermotor. Lalu ada juga yang berupa pembatasan subsidi BBM. Wajarlah kalau harga BBM selalu naik walaupun ada subsidi karena memang harga minyak dunia juga sangat mahal. Tapi ya tetep saja saya yang hanya "wong cilik" sering menjerit kalau ada kenaikan harga BBM.

Yang mengherankan adalah mengapa jumlah kendaraan bermotor di jalan semakin bertambah banyak padahal harga BBM semakin naik? Yang lebih mengherankan lagi adalah kendaraan bermotor yang lalu lalang itu lebih banyak yang baru daripada yang lama; mobil-mobil mengkilap dengan plat mobil yang masih baru, motor-motor cling dengan platnya yang baru pula (bahkan malah tidak ada platnya). Benar-benar banyak orang kaya di Indonesia!

Kalau seperti itu, apakah pemerintah tidak pusing? Atau malah jangan-jangan pemerintah bangga dengan banyaknya kendaraan bermotor yang baru di jalan-jalan? Bangga karena rakyatnya sudah makmur hingga mampu beli mobil dan motor baru? Waduh berarti pemerintahnya sakit jiwa!

Kalau pemerintah bisa berpikir jernih, mestinya ada cara yang lebih jitu dan tegas untuk menekan laju pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Masyarakat Indonesia walaupun terdiri dari suku-suku yang beraneka ragam, tetep hanya ada 2 golongan jika dilihat dari kepentingan mereka dalam membeli kendaraan. Golongan pertama adalah yang memang benar-benar memerlukan kendaraan untuk penghidupannya, dan golongan kedua adalah yang hanya ingin dipandang sebagai orang berduit (selalu gonta-ganti motor baru, memajang mobil di depan rumah, dipajang saja dan mungkin digunakan setahun sekali untuk keperluan mudik). Tanpa melihat golongan tersebut, seharusnya pemerintah bisa menerapkan peraturan-peraturan tegas tentang kepemilikan kendaraan bermotor. Misalnya adalah pemberlakuan pajak kendaraan bermotor tahunan (PKB) khusus motor biasa (bukan motor besar yang mewah) dengan tarif yang dinaikkan 50%-100%. Saya pribadi pasti akan menjerit jika ada kenaikan pajak motor. Tapi karena saya membutuhkan motor untuk penghidupan saya, mau tidak mau saya harus patuh pada pemerintah. Cara ini pun mestinya lumayan bisa membuat orang berpikir dua kali untuk membeli motor baru. Lagi pula uang pajaknya digunakan untuk pembangunan (kalau tidak dikorupsi lho.... ).

Sementara itu, PKB untuk mobil mestinya dikenakan tarif yang lebih tinggi karena harganya yang tinggi. Untuk mobil lama, pengenaan tarif PKB nya bisa dibuat sama dengan pengenaan tarif untuk motor, yaitu naik 50%-100%. Untuk mobil baru, tarif PKB sebesar 1x harga mobil. Dijamin tidak ada orang yang mau memamerkan kekayaannya dengan memajang mobil barunya di depan rumah! Untuk mobil mewah, lama atau baru, dan motor gede lama atau baru, dikenakan tarif PKB sebesar 3x harga kendaraannya. Bayangkan jika seorang milyuner harus membayar pajak untuk motor gedenya yang seharga 500juta dan mobil mewahnya yang seharga 2 milyar. Tiap tahun dia harus membayar pajak sebesar 1,5 milyar untuk motornya dan 6 milyar untuk mobilnya!! Biar tahu rasa!! Kalau dia bersedia membayar pajaknya tiap tahun, negara akan sangat terbantu untuk pembangunan. Kalau dia tidak bersedia, mau tidak mau dia harus "membuang" kendaraannya.

Bisa dibayangkan betapa tentram dan tenangnya kota-kota jika peraturan seperti di atas diterapkan di Indonesia. Jalanan akan lancar, udara terasa segar, telinga tidak mendengar kendaraan yang hingar bingar.

Eitss, tapi tunggu dulu! Nasib karyawan dealer mobil motor bagaimana? Tenang, pengusahanya disuruh pindah ke usaha distribusi atau manufaktur sepeda pancal. Tidak akan ada pengangguran. Bagi masyarakat Indonesia yang hobi pamer, mereka bisa beli sepeda pancal yang harganya ratusan juta kok. Pasti ada. Tetep bayar pajak juga untuk barang mewah. Tenang, masyarakat yang suka pamer pun masih bisa membantu pembangunan walaupun tanpa memiliki mobil mewah kok.

Happy endingnya adalah Endonesia Kebul Kendaraan berubah menjadi Indonesia Sehat Paru. Paru-paru yang sehat karena asap kendaraan yang berkurang, dan paru-paru yang sehat berkat sepeda pancal.