Labels

21/01/2019

Penjara Semakin Sesak

Setiap hari stasiun TV lokal dan nasional menyajikan berita kriminal. Dari jenis kriminal kelas kakap sampai dengan kelas teri, pasti sering diberitakan. Ada pelaku kriminal yang tertangkap, ada pula yang masih bebas berkeliaran. Yang masih bebas berkeliaran bisa jadi karena mereka bersembunyi di hutan belantara, atau bahkan bersembunyi di belakang tangan penguasa. Yang berhasil ditangkap pastilah dimasukkan ke penjara.

Walhasil, penjara semakin penuh sesak. Apalagi dengan adanya kamar penjara yang eksklusif bertaraf kamar hotel berbintang. Pasti akan memakan ukuran ruang kamar penjara. Kamar penjara eksklusif yang secara ukuran seharusnya bisa ditempati untuk 6 orang misalnya, namun hanya satu orang yang 'menguasainya'. Semua itu karena uang dan kekuasaan yang berbicara.

Pemerintah mestinya sudah menyadari kebutuhan untuk menambah jumlah lembaga pemasyarakatan (lapas), atau minimal membeli tanah di sekitar lapas yang kamarnya sudah penuh sesak untuk memperluas bangunannya. Pemerintah juga pasti sudah menganggarkan dana untuk keperluan makan minum para tahanan itu. Belum lagi dana operasional lainnya untuk kegiatan di lapas tersebut (gaji pegawai, rekrutmen pegawai baru, acara rutin lapas, dan lain-lain).

Namun apakah sudah disadari bahwa nantinya cepat atau lambat pemerintah akan merasa kesulitan untuk memenuhi anggaran lapas yang semakin membengkak? Semakin banyak pelaku kriminal yang perlu dimasukkan ke lapas. Memang ada juga yang bebas, namun jika dilihat dari intensitas berita kriminal yang ada di televisi, sepertinya lebih banyak yang masuk ke lapas daripada yang bebas.

Bagaimana jika jenis hukuman ditentukan berdasarkan jenis kejahatannya dan motif kriminalnya?

Misalnya, jenis kejahatan korupsi pastilah motifnya adalah untuk memperkaya diri. Tidak usah dimasukkan ke penjara. Langsung saja dia, saudara-saudara kandungnya, dan keluarganya dimiskinkan oleh negara. Tidak peduli apakah harta yang dirampas oleh negara itu adalah hasil korupsi dia atau harta warisan. Rampas semuanya. Tidak perlu dipenjara.

Contoh lain, bandar narkoba. Dia juga punya motif ingin kaya karena memang harganya selangit. Selain itu, sepertinya dia punya motif ingin merusak generasi bangsa. Tidak usah dipenjara terlalu lama. Hukum saja dia dengan memberi dia banyak asupan narkoba yang dia edarkan.

Hukuman seperti itu bukan penyiksaan. Ini logikanya seperti penjual bakso yang untuk makan siangnya penjual bakso itu, dia memakan hidangan baksonya. Wajar bukan? Nah, si bandar narkoba itu 'menikmati' sarapan, makan siang, makan malam, dan cemilan malam berupa narkoba sebagai menu utama. Cepat atau lambat dia akan muak atau bahkan meninggal karena overdosis. Ingat! Ini bukan penyiksaan. Ini seperti orang yang terlalu suka yang manis-manis sampai akhirnya dia terkena penyakit diabetes dan akhirnya meninggal.

Hukuman untuk pembunuh kejam dan sadis juga tidak perlu dimasukkan ke penjara. Jangan-jangan nanti di penjara dia tambah bernafsu ingin membunuh lebih banyak lagi. Kirim saja dia ke pulau tidak berpenghuni dan jauh dari pulau-pulau yang lain. Tidak perlu dibangunkan fasilitas apapun di pulau itu. Biarkan dia bertahan hidup di pulau itu seperti di adegan film Cast Away. Kalau dia nekat berenang mencari pertolongan, harusnya susah karena pemerintah pastilah mengandalkan armada pengamanan lautnya yang hebat.

Nah, untuk pelaku kriminal kelas teri sekelas maling ayam, maling kayu bakar di hutan milik tetangga, pemain judi sabung ayam, mereka sepertinya lebih layak untuk dimasukkan ke lapas karena mestinya lebih gampang untuk membina dan memperbaiki rohani mereka. Masih ada kemungkinan yang sangat besar untuk kembali menjadi anggota masyarakat yang tidak meresahkan. Lagi pula, mereka tidak perlu terlalu lama menghuni lapas. Jadi iritlah pengeluaran negara.

(Tulisan ini diilhami oleh jadwal berita kriminal yang setiap hari tayang dan berita tentang kaburnya banyak narapidana dari lapas.)






No comments:

Post a Comment