It is not appropriate to say that somebody is a good person or bad just by knowing what s/he has done to her/himself or to others. I don't mean that what most religions have established about the good and the bad is wrong. I still believe that the good will go to heaven and the bad will go to hell. In daily life, however, we often conclude that Mr. X, for example, is a very good person because he always gives money to the poor. We don't know what his purpose to do that is. There are some possibilities why he does that; maybe he has too much money, or maybe he wants to get helps from the poor if he needs something. He might even want to get compliments from others in his neighborhood. Who knows?
Stealing is wrong. It breaks the law. Everybody knows that. If you steal something and then you are caught, you will be in jail because you have done something bad. And maybe people around you will say that you are a bad person. Let us think in a different perspective; not about the stealing itself but about the reason why you steal. If you steal a car because your neighbor has a car and you want to be like your neighbor (to look rich), I am definitely sure that you deserve to go to jail. If you steal a car because you need to take someone bleeding because of an accident to the hospital, I don't think you will go to jail for a very long time. Yes, you will go to jail because you have taken somebody else's property without permission. But from the reason point of view, you do that for the sake of humanity. The judge will of course lighten the punishment for you.
So, to make life easier, I myself never think that what I do is good or bad. What I care more is the after effects of what I have done. For me, being alone in a small library with badly arranged collections of books is a nice thing to do. But for many people, it is stupid. And stupid means bad. It's stupid and bad because many people will think that I just want to be undisturbed, unsociable, and secluded. What I actually find out about being alone in this place is that I can exercise my brain and muscle. I can think of how I will manage the collections. I can get healthy because arranging books and shelves needs physical energy. I get the benefit from that. Then if God will decide whether I will go to heaven or hell because of my being alone in the library, I and other human beings may not interfere the decision making.
As a conclusion, when we are going to do something, think about the effect. When your voice is so very super loud when speaking in a room with some people in it, think about the effects. Will it relieve your tension or hurt your throat? Will it entertain the people inside or hurt their ears?
08/02/2014
27/01/2014
Berbicara dan Berisi
Saya sebenarnya berpikir kenapa begitu banyak pembicara yang memberi motivasi tentang hidup, baik itu tentang karir, rumah tangga, studi, dan lain-lain. Apa nomor satu yang ada di benak para pembicara tersebut? Berniat untuk membantu mengarahkan hidup orang lain, ataukah berniat mencari penghidupan (=penghasilan)? Kedua niat tersebut sama-sama baik; sama-sama membantu orang lain. Yang pertama membantu pendengar, yang kedua membantu pasangan hidup dan anak-anak agar dapur tetap mengepul dan agar anak-anak mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak.
Saya pernah mengenal permainan yang disebut 'simon says'. Di permainan tersebut, instruktur memberi perintah dan dia juga melakukan perintah tersebut. Contoh perintahnya adalah 'pegang pundakmu', 'pegang dagumu', 'pegang pipimu'. Instruktur pun melakukan hal yang sama. Ada saatnya ketika perintah adalah 'pegang telingamu', instruktur malah memegang pipinya. Maka terjadilah kecenderungan bahwa banyak peserta permainan juga memegang pipi, bukannya memegang telinga. Apa yang sebenarnya terjadi? Contoh nyata lah yang akan ditiru; bukan perintah yang terucap.
Seorang pembicara pernah mengungkapkan pendapat yaitu: 'jika ingin seseorang melakukan sesuatu, lakukan action dulu, jangan memberi perintah. Niscaya orang tersebut akan melakukan apa yang sudah anda lakukan'. Sebagai contoh, anda ingin adik anda memasukkan sisa uang jajannya ke celengannya sendiri. Kalau anda hanya menasihati adik anda tentang pentingnya menabung dan berhemat, dan menyuruh dia agar memasukkan sisa uang jajannya ke celengannya, sementara anda sendiri berfoya-foya tanpa berusaha mengisi celengan anda sendiri, nasib adik anda akan sama dengan anda. Energi berbicara anda akan sangat terkuras habis tanpa hasil.
Nah, apakah dengan begitu banyaknya peserta seminar motivasi yang datang akan tercipta manusia-manusia yang berubah kebiasaannya yang banyak pula? Hanya Tuhan yang tahu karena berubahnya kebiasaan seseorang urusannya dengan otak dan nurani, dan roh. Itu urusannya Tuhan. Yang jelas, contoh nyata yang baik akan menghasilkan yang baik juga.
(Nah lagi, kalau ingin jadi pembicara yang sukses, datangi seminar-seminar dan dengarkan orang berbicara. Mau download youtube juga bisa. TEDTALK saya rekomendasikan.)
Saya pernah mengenal permainan yang disebut 'simon says'. Di permainan tersebut, instruktur memberi perintah dan dia juga melakukan perintah tersebut. Contoh perintahnya adalah 'pegang pundakmu', 'pegang dagumu', 'pegang pipimu'. Instruktur pun melakukan hal yang sama. Ada saatnya ketika perintah adalah 'pegang telingamu', instruktur malah memegang pipinya. Maka terjadilah kecenderungan bahwa banyak peserta permainan juga memegang pipi, bukannya memegang telinga. Apa yang sebenarnya terjadi? Contoh nyata lah yang akan ditiru; bukan perintah yang terucap.
Seorang pembicara pernah mengungkapkan pendapat yaitu: 'jika ingin seseorang melakukan sesuatu, lakukan action dulu, jangan memberi perintah. Niscaya orang tersebut akan melakukan apa yang sudah anda lakukan'. Sebagai contoh, anda ingin adik anda memasukkan sisa uang jajannya ke celengannya sendiri. Kalau anda hanya menasihati adik anda tentang pentingnya menabung dan berhemat, dan menyuruh dia agar memasukkan sisa uang jajannya ke celengannya, sementara anda sendiri berfoya-foya tanpa berusaha mengisi celengan anda sendiri, nasib adik anda akan sama dengan anda. Energi berbicara anda akan sangat terkuras habis tanpa hasil.
Nah, apakah dengan begitu banyaknya peserta seminar motivasi yang datang akan tercipta manusia-manusia yang berubah kebiasaannya yang banyak pula? Hanya Tuhan yang tahu karena berubahnya kebiasaan seseorang urusannya dengan otak dan nurani, dan roh. Itu urusannya Tuhan. Yang jelas, contoh nyata yang baik akan menghasilkan yang baik juga.
(Nah lagi, kalau ingin jadi pembicara yang sukses, datangi seminar-seminar dan dengarkan orang berbicara. Mau download youtube juga bisa. TEDTALK saya rekomendasikan.)
07/01/2013
Ayam dan mushola
Apa yang terpikir jika Anda melihat seekor anak ayam sendirian, tanpa induknya tapi tidak terlihat sedang mencari induknya? Mungkin Anda berpikir bahwa ayam ini sudah ditinggal induknya untuk bertelur lagi. Kalau Anda melihat dia sedang kelaparan (temboloknya terlihat kosong), akankah Anda biarkan saja? Sejahat-jahatnya orang, dalam hati kecilnya pasti akan terbersit pikiran: "Kasihan anak ayam itu", "Apa tak kasih sejumput beras saja, ya?", dan lain-lain yang pada intinya Anda tergerak untuk menolong (kasus akan berbeda jika Anda menderita fobia pada ayam).
Tepat setelah hati nurani Anda berkata, Anda langsung mengambil sejumput beras lalu memberikannya kepada anak ayam itu, Anda adalah orang baik. Namun, setelah hati nurani menyuruh Anda untuk menolong anak ayam itu, ternyata pikiran rasional Anda berkata bahwa anak ayam ini bukan milik Anda, Anda gagal jadi orang baik. Apalagi Anda malah mengusirnya, melemparinya dengan batu kerikil; Anda adalah orang jahat!
Kembali lagi ke niat untuk melakukan perbuatan baik, yaitu memberi makan pada anak ayam dalam kasus ini. Anggap saja anak ayam itu lari dari pemiliknya karena dia sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Kemudian dari gelagat anak ayam itu, dia terlihat ingin dipelihara oleh Anda. Maka sudah barang tentu Anda memberi dia makan tiap hari. Apa maksud Anda memberi dia makan setiap hari: (1) Apakah Anda hanya berniat membuat dia tetap hidup karena dia adalah makhluk hidup yang membutuhkan makan, (2) Ataukah Anda mempunyai niat untuk membuatnya gemuk agar pada saat disembelih nanti dagingnya banyak? Saya sebagai penulis memilih nomor 1 karena saya tidak mau menyembelih binatang yang saya rawat, walaupun itu adalah binatang ternak. Jika Anda memilih nomor 2, itu juga wajar karena ayam diciptakan oleh Allah untuk dikonsumsi oleh manusia. Namun jika nomor 2 yang dipilih tapi pada suatu hari si pemilik anak ayam itu datang mencari dan mengambilnya, pasti Anda menyesal karena sudah terlanjur memberi anak ayam itu makan banyak.
Menuju pembahasan tentang niat melakukan perbuatan baik untuk kasus yang lain. Di suatu mushola, mestinya tersedia sajadah dan mukena lebih dari 1. Jika mushola itu ada pengurusnya, tentunya ada pengaturan tentang kapan waktunya mencuci dan siapa yang melakukan tugas itu. Jika Anda termasuk pengguna rutin mushola yang tidak ada pengurusnya, pernahkah hati Anda tergerak untuk membantu mencucikan sajadah dan mukena itu? Kalau tidak pernah terbersit di hati nurani sekalipun, berarti Anda egois (kalau tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak tahu malu).
Saya tinggalkan bahasan tentang orang yang egois untuk kasus sajadah dan mukena. Fokus saya adalah pada orang yang tergerak hatinya untuk mencucikan sajadah dan mukena itu. Pertanyaan saya adalah: apa maksud Anda jika Anda adalah orang yang memutuskan untuk membantu mencucikan: (1) Apakah ingin mendapatkan pahala dari Allah, (2) Ataukah supaya orang-orang lain yang sholat di mushola itu merasa nyaman dengan kebersihan perlengkapan sholatnya? Jika Anda memilih nomor 1, maaf jika saya mengatakan bahwa Anda adalah orang yang gila hormat, gila pangkat, gila jabatan, gila pujian. Ada motif tersembunyi di balik perbuatan baik Anda tersebut, yaitu upah. Akan lebih bijak jika nomor 2 dipilih; Anda menginginkan agar Anda dan orang-orang yang sholat di mushola itu merasa nyaman dan khusuk jika perlengkapan sholatnya bersih. Ibadah sholatnya lebih bermutu. Urusan pahala, terserah Allah; diberi pahala ya Alhamdulillah, tidak diberi pahala mestinya tidak masalah karena dilakukan dengan ikhlas.
(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis)
Tepat setelah hati nurani Anda berkata, Anda langsung mengambil sejumput beras lalu memberikannya kepada anak ayam itu, Anda adalah orang baik. Namun, setelah hati nurani menyuruh Anda untuk menolong anak ayam itu, ternyata pikiran rasional Anda berkata bahwa anak ayam ini bukan milik Anda, Anda gagal jadi orang baik. Apalagi Anda malah mengusirnya, melemparinya dengan batu kerikil; Anda adalah orang jahat!
Kembali lagi ke niat untuk melakukan perbuatan baik, yaitu memberi makan pada anak ayam dalam kasus ini. Anggap saja anak ayam itu lari dari pemiliknya karena dia sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Kemudian dari gelagat anak ayam itu, dia terlihat ingin dipelihara oleh Anda. Maka sudah barang tentu Anda memberi dia makan tiap hari. Apa maksud Anda memberi dia makan setiap hari: (1) Apakah Anda hanya berniat membuat dia tetap hidup karena dia adalah makhluk hidup yang membutuhkan makan, (2) Ataukah Anda mempunyai niat untuk membuatnya gemuk agar pada saat disembelih nanti dagingnya banyak? Saya sebagai penulis memilih nomor 1 karena saya tidak mau menyembelih binatang yang saya rawat, walaupun itu adalah binatang ternak. Jika Anda memilih nomor 2, itu juga wajar karena ayam diciptakan oleh Allah untuk dikonsumsi oleh manusia. Namun jika nomor 2 yang dipilih tapi pada suatu hari si pemilik anak ayam itu datang mencari dan mengambilnya, pasti Anda menyesal karena sudah terlanjur memberi anak ayam itu makan banyak.
Menuju pembahasan tentang niat melakukan perbuatan baik untuk kasus yang lain. Di suatu mushola, mestinya tersedia sajadah dan mukena lebih dari 1. Jika mushola itu ada pengurusnya, tentunya ada pengaturan tentang kapan waktunya mencuci dan siapa yang melakukan tugas itu. Jika Anda termasuk pengguna rutin mushola yang tidak ada pengurusnya, pernahkah hati Anda tergerak untuk membantu mencucikan sajadah dan mukena itu? Kalau tidak pernah terbersit di hati nurani sekalipun, berarti Anda egois (kalau tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak tahu malu).
Saya tinggalkan bahasan tentang orang yang egois untuk kasus sajadah dan mukena. Fokus saya adalah pada orang yang tergerak hatinya untuk mencucikan sajadah dan mukena itu. Pertanyaan saya adalah: apa maksud Anda jika Anda adalah orang yang memutuskan untuk membantu mencucikan: (1) Apakah ingin mendapatkan pahala dari Allah, (2) Ataukah supaya orang-orang lain yang sholat di mushola itu merasa nyaman dengan kebersihan perlengkapan sholatnya? Jika Anda memilih nomor 1, maaf jika saya mengatakan bahwa Anda adalah orang yang gila hormat, gila pangkat, gila jabatan, gila pujian. Ada motif tersembunyi di balik perbuatan baik Anda tersebut, yaitu upah. Akan lebih bijak jika nomor 2 dipilih; Anda menginginkan agar Anda dan orang-orang yang sholat di mushola itu merasa nyaman dan khusuk jika perlengkapan sholatnya bersih. Ibadah sholatnya lebih bermutu. Urusan pahala, terserah Allah; diberi pahala ya Alhamdulillah, tidak diberi pahala mestinya tidak masalah karena dilakukan dengan ikhlas.
(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis)
